Home / Index / Pulutan, Negeri Para Seniman Keramik

Pulutan, Negeri Para Seniman Keramik

Rumah pengolahan keramik di desa Pulutan, Minahasa.

Oleh: Charly Wongkar

Sudah pukul 15.30 wita. Langit sedang turunkan hujan lebat. Begitu reda sedikit, cepat-cepat aku hidupkan sepeda motor dan berangkat. Tapi, di tengah perjalanan, hujan lagi. Namun semangatku tak pupus. Apa boleh buat! Mengurungkan niat sudah terlambat.

Dari kota Tondano, hanya butuh 30 menit untuk sampai di desa yang jadi tujuanku. Pulutan namanya. Desa itu bagian dari Kec. Remboken, Kab. Minahasa. Satu-satunya desa di Sulut yang tersohor dengan produksi keramiknya.

Pada Jumat (30/6/2017) itu aku hendak melapor ke pemerintah desa setempat. Tapi, kata warga, hukum tua dan sekretaris desanya sedang keluar.

Nampak semua rumah ada aktifitas. Dari remaja sampai orang tua sibuk bekerja. Mampirlah aku di satu rumah. Ada om dan tante yang sedang istirahat sambil meneguk kopi. Lalu kugunakan kesempatan itu untuk bercakap-cakap dengan mereka. Om itu bernama Gladi Kowaas.  Dia bilang pekerjaan membuat keramik sudah merupakan pekerjaan mereka turun-temurun sejak zaman Belanda. Dan mungkin akan berlanjut. Teknik pembuatan masih seperti yang diajarkan orang tua mereka dahulu.

Sambil berjalan, Om Gladi yang disertai pengrajin yang lain, menunjukkan padaku bahan dan alat serta cara mereka mengelolah tanah liat menjadi keramik. Katanya, pemasaran atau penjualannya lebih banyak lewat media massa  atau pemborong. Kalau dulu berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, mereka menjajakan keramik dengan gerobak yang ditarik kuda ke kampung-kampung.

Produk yang mereka buat adalah gerabah dan guci. Dan ternyata, keduanya memiliki perbedaan dalam pemerosesan. Geraba butuh enam ribu celcius. Sedangkan guci butuh 13 ribu celcius. Guci bahannya dicampur kaolin. Sedangkan gerabah tidak. Teknik mengukirnya juga berbeda. Kesulitan pembuatannya menentukan juga harganya. Harga gerabah dan guci bisa dari Rp. 900.000 hingga jutaan. Tapi harga kadang tergantung juga dari pesanan pelanggan.

Proses  dimulai dari penggalian tanah, terus digiling supaya alus. Baru somo maso di tahap pembentukan mar ada depe beda. Kalo gerabah cuma tanah tok. Kalo guci ada campuran kaolin. Baru jumur kase kering karna masih mantah toh. Trus, bakar di porno pa dia pe suhu 6000 celcius. Itu kalo gerabah. Mar kalo guci di Suhu 13.000 celsius. Lalu cet kong pajang. Mar waktu mo beking ini ada juga beberapa skill, sama deng baukir ba tempel deng nda ada retak deng tingkat kehalusan bagus kong dia pe harga dari 900 ribu sampe jutaan,” tutur Kowaas dengan semangat.

Mereka mengharapkan agar pemerintah lebih memperhatikan mereka lewat bantuan dana untuk pemasaran dan penyediaan bahan dan alat yang lebih baik.

Kalo boleh pemeritah boleh mo sadia akang ini alat yang lebeh bagus….deng kwa for dia pe pemasaran supaya cepat kita harap dari pemerintah kase sadia akang tampa for mo jual akang sama deng pasar bagitu supaya samua masyarakat boleh morasa akang karna sampe skarang belum dapa rasa itu bantuan. Deng sadia akang koprasi deng harga tetap,”papar Kowaas, yang sudah menjadi pengrajin keramik selama 50-an tahun ini.

Tak terasa hari sudah malam. Tapi percakapan harus dihentikan. Sayangnya hujan masih terus mengguyur. Aku pun pulang dengan pakaian basah di badan.(Is)

About Redaksi SulutHebat

Media informasi kinerja dan keberhasilan pemerintahan Olly Dondokambey dan Steven Kandouw

Check Also

Cerita gubernur Olly tentang kisah penghianatan Yudas

Manado – SULUTHEBAT.COM Perayaan Paskah ASN dan THL Pemprov Sulut dihadiri Gubernur Sulawesi Utara Olly …