• Wed. Oct 27th, 2021

Pengrajin Santi Waraney Minahasa, Bagaimana Kisahmu Kini?

ByRedaksi SulutHebat

Jul 2, 2017
Penari Kawasaran di puncak bukit Warembungan dengan latar belakang kota Manado. Foto: Armando Loho.

Oleh: Iswan Sual

“I  yayat u santi!” Secara harafiah kalimat itu berarti angkatlah pedangmu dan acung-acungkan. Ungkapan ini diserukan oleh pelindung negeri atau waraney dan pemimpin Minahasa zaman lampau untuk bangkitkan semangat demi menjauhkan rasa cemas, kuatir dan takut ketika berhadapan dengan musuh atau tantangan. Perkataan itu mengandung seruan supaya kita menjadi gagah perkasa, maju terus dan pantang mundur.

Apakah santi itu? Santi dalam bahasa Tombulu, berarti pemisah. Santi, seperti halnya waruga (peti kubur) yang telah terkenal itu, adalah karya seni. Santi merupakan salah satu senjata tradisional orang Minahasa. Selain digunakan untuk berperang, ia juga digunakan sebagai alat berburu dan bertani. Konon, Minahasa sudah menghasilkan santi jauh sebelum terjadinya perang tasikela (Minahasa melawan Spanyol). Santi pertama kali dibuat sekitar lima ribu tahun lalu oleh Opo Marentek.

Bagaimana nasib pengrajin santi di zaman modern ini? Dua pertanyaan itu menuntun aku untuk berupaya keras menjelajahi internet dan mencari beberapa narasumber yang masih menjaga tradisi pembuatan senjata tradisional yang dulunya digunakan para waraney dengan bangga itu.

Secara kebetulan, bertemulah aku dengan Roy Vicky Pudihang, pengrajin santi di Warembungan suatu ketika. Dari pengakuannya, lelaki Pineleng yang sudah berumur 34 tahun ini, pembuatan santi sudah dilakukannya sejak 30 Oktober 2013. Kata Roy, dia membuat santi bukan karna dorongan orang. Dan bukan juga karena diajari orang lain.

Santi, senjata tradisional Minahasa. Foto: Roy Pudihang.

Kong dang, bagaimana? Sebetulnya Roy sudah tahu membuat santi sejak  kelas tiga SD. Hanya saja dia belum bisa melakukan pekerjaan itu. Pun ketika sudah duduk di bangku SMP tetap dicegah oleh orang tua karena usia masih terlalu belia. Itu poso atau pantangan, kata orangtuanya. Di Agustus 2013, di Manado Tua, kampung istrinya, mimpi datang padanya. Terasa sungguh nyata. Dia melihat dirinya sendiri memegang pedang bersama kawasaran yang tengah berperang di masa silam.

Selama dua bulan itu, mimpi datang terus. Dia pun ambil keputusan untuk pulang ke Warembungan untuk langsung berjumpa dengan seorang Walian atau pendeta kepercayaan Malesung yang bernama Rintoh Taroreh. Diceritakannya semua mimpinya. Sang Walian mendengar dengan sungguh dan angkat suara setelahnya. Saat itu Roy pun tahu kalau dia telah ditentukan menjadi pengrajin santi. Di rumah walian itu terdapat banyak santi yang mirip dengan apa yang dimiliki kakeknya. Sama pula dengan yang dilihatnya di mimpi.

Akhirnya, dia kembali lagi ke  Manado Tua dan mulai mengerjakan santi sendirian. Tapi bulan Juni 2014 dia pindah lagi ke Warembungan, kec. Pineleng Kab. Minahasa dan menjadi pengrajin santi hingga kini. Namun, membuat santi tidak dianggapnya sebagai suatu bisnis. Dia memandang itu sebagai panggilan untuk melestarikan warisan leluhur. Itulah yang membuatnya tak menjual produknya sesuai logika pasar.

Roy Vicky Pudihang, pengrajin santi Minahasa.

Lantas, apa makna “i yayat u santi” di masa yang sudah serba canggih ini? Pun di era modern, ungkapan i yayat u santi sangat relevan. Empat kata itu memberi himbauan supaya kita terus lengkapi diri dengan berbagai kearifan, hikmat, ketrampilan, ilmu pengetahuan dan teknologi. Itulah santi yang harus kita acung-acungkan bilamana kita menghadapi segala tantangan yang berwujud kemiskinan, kemalasan, kebodohan, kelaparan, ketidakadilan, ancaman penjajahan, dan segala sesuatu yang dapat menjadi musuh kehidupan.

Sumber lain:

Injil dan Kebudayaan di Tanah Minahasa karya Pdt. Dr. WR Roeroe.

Redaksi SulutHebat

Media informasi dan inspirasi pembangunan Sulawesi Utara yang semakin hebat...