• Wed. Oct 27th, 2021
                   Frangky Sampouw, S.Pd

SULUTHEBAT.COM, Tondano –  Bangkitnya semangat ber-Minahasa yang belakangan terjadi membuat salah satu budayawan Frangky Sampouw, S.Pd angkat bicara. Dia menuturkan rasa bangganya ketika gerakan budaya makin berkembang tetapi menyesalkan adanya gerakan berbasis adat yang separatis dan rasialistik serta mengabdi pada ‘kepentingan politik’ tertentu. Hal itu dituturkan kepada awak media ini pada Senin, (18/09/2017) di Sekretariat Gerakan Muda Benteng Moraya, Roong, Tondano.

“Apa pun wadah, media, dan jenis karya kita,  harus dilandaskan pada akar-akar kultural untuk memberikan kesadaran pada masyarakat. Utamanya adalah nilai-nilai luhur dan universal. Yang disayangkan, banyak  gerakan sekarang yang cenderung separatis dan rasial; apalagi untuk politik jangka pendek,” tutur salah satu pendiri Sanggar Seni Toar Lumimuut (S. S. Tolu) FBS Unima ini.

Selanjutnya, dia mengatakan S. S. Tolu sejak berdiri tahun 2003 telah berkomitmen untuk membangun budaya dengan landasan akademis dan telah turut serta membantu mendirikan beberapa sanggar seni di antaranya Sanggar Tumondei Minahasa Selatan (STMS) di Tondei dan Sanggar Seni Tou Pager di Poigar Minahasa Selatan.

“S. S Tolu didirikan karena kegelisahan akan tantangan modernitas yang menggerogoti budaya Minahasa,” ucap tole yang ahli dalam seni rupa dan aktif dalam gerakan budaya sejak 1999 ini.

Di akhir wawancara, katanya dalam waktu dekat ada pegelaran seni budaya yang salah satunya akan mementaskan naskah tentang Perang Tondano Benteng Moraya.

“Kegiatan ini sudah pernah digelar pada tahun 2009 di Gedung Kuliah Bersama Unima. Saya berharap nantinya kegiatan ini mendapat respon dari semua pegiat seni dan budaya untuk ambil bagian demi kemajuan gerakan,” tandas Sampouw dengan wajah optimis. (Swd)

Redaksi SulutHebat

Media informasi dan inspirasi pembangunan Sulawesi Utara yang semakin hebat...