• Sun. Oct 24th, 2021
                         Prof. Ruddy Pakasi

SULUTHEBAT.COM, Tondano – Globalisasi adalah isu yang mengancam kepunahan budaya lokal sehingga ada banyak upaya yang digerakkan oleh negara-negara untuk mempertahankan kebudayaannya. Salah satu yang menjadi pokok gerakan budaya adalah pelestarian bahasa lokal oleh karena tuntutan penggunaan Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional (lingua franca) dan bahasa-bahasa lain yang menguasai industri budaya, teknologi, dan perdagangan.

Menanggapi hal itu, Prof. Ruddy Pakasi mengatakan bahwa memperkuat ekonomi adalah suatu daya pelestarian bahasa untuk menghindari ancaman kepunahannya.

“Kekuatan ekonomi memiliki daya kuat untuk melestarikan bahasa karena jika negara kita unggul dalam bidang ekonomi bahkan negara-negara lain akan mempelajari bahasa kita. Ambil contoh pada Cina dan Jepang yang maju secara ekonomi dan juga teknologi,” ujar dosen seni rupa Universitas Negeri Manado ini pada Minggu (24/09/2017) di kelurahan Perum Maesa Unima Blok D.

Lebih lanjut, menurutnya upaya pelestarian bahasa lokal seperti Bahasa Tolour dengan menggelar lomba-lomba pidato sangat tidak efektif. Oleh karena budaya pop seperti K-Pop dan Korean Drama yang marak di kalangan generasi muda membuat mereka dengan sendirinya mempelajari Bahasa Korea.

“Jika tidak ada upaya untuk memperkuat ekonomi maka kita harus siap-siap menerima kenyataan bahasa lokal akan punah atau hanya akan terdokumentasikan,” tutur Prof. Pakasi kepada beberapa mahasiswa yang concern pada kebudayaan Minahasa. (Swd)

 

Redaksi SulutHebat

Media informasi dan inspirasi pembangunan Sulawesi Utara yang semakin hebat...