Home / BAKU KENAL / Oligarki & Despotisme di Minahasa

Oligarki & Despotisme di Minahasa

                      David Sumampouw

<Sebuah Catatan Politik >

Perubahan pada dasarnya tidak semerta-merta akan terjadi begitu saja, melainkan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencapai perubahan keseluruhan (evolusi). Kebanyakan masyarakat mengeluh akan kualitas pemimpin yang non-konformitas atas emansipasi rakyat. Perlawanan hari ini adalah perlawan praktis di mana rakyat mengkritisi hanya lewat media sosial dan sudah tidak lagi menggunakan cara-cara lama dalam penyampain aspirasi seperti turun ke jalan. Metode-metode perlawanan yang ‘primitif’, kata seorang kawan, bukanlah solusi dan bersifat non-masif. Itu merupakan kegilaan. Tapi efektivitas demonstrasi atau unjuk rasa mulai dipertanyakan di era ini. Sebab perang hari ini adalah perang teknologi yang tidak lagi mengunakan tank, peluru tajam, atau senjata fisik lainnya melainkan mengunakan jempol dan listrik untuk memperdaya lewat smartphone (cyber war).

Mari kita tinjau mengenai kondisi objektif Minahasa di mana pemerintahannya  mengarah ke despotisme dan oligarki. Kekuasaan ini akan punah (vanish) jika melalui perjuangan para revolusioner. Revolusi sosiallah yang harus ditempuh, namun revolusi yang sebenarnya ,bukan kaidah para individualis dan mutualis tentang penghapusan pemerintah. Berkaca di periode-periode sebelumnya , rakyat sudah bisah menganalisa bahwa calon-calon pemimpin Minahasa adalah mereka yang mempunyai darah dari pemimpin-pemimpin sebelumnya. Roda pemerintahan yang saat kemarin, hari ini, dan selanjutnya akan seperti apa yang di terapkan pemimpin-pemimpin Minahasa yang fungsi kontrolnya non-sense. Apakah seorang anak yang ayahnya seorang patriot non-sense dan gagal membimbing rakyatnya bisa membawa kita ke depan pintu gerbang kemerdekaan dan keadilan sosial?

Berkaca atas program-program dari kepemimpinan sebelumnya, begitu banyak kekurangan yang nyata, di mana kesejahtraan hanya diraih oleh keluarga-keluarga terdekat,dan kaum-kaum borjuis, tidak ada pemeratahan sosial. Pada dasarnya tulisan ini adalah tentang despotisme oligarki Minahasa, yang semakin hari semakin nampak, untuk  menyadarkan masyarakat atas permainan oknum-oknum yang akan ‘memperdayai’ nilai Pancasila itu sendiri.

Banyak yang memilih diam, kaum  proletariat misalnya, mereka memilih diam dan sambil menunggu hasil panen (rumah kost). Aktivis lingkungan, aktivis sosial, aktivis radikal, kaum anarkis, kaum intelektual, pers dll memilih jalan diam walaupun diam merupakan bentuk “pengkhianatan”. Tapi diam atas informasi yang nanti akan menjadi peluru untuk revolusi ke depan “kayaknya”, sebab memilih jalur melawan merupakan sebuah kutukan yang abadi.

Keserakahan kaum kapitalis dalam memakan segala bentuk kerja keras sebenarnya di era ini tidak sejahat era-era sebelumnya di mana banyak sekali penindasan yang memakan banyak korban, kondisi hari ini bukanlah penindasan di era Marx, Lenin, Barkman. Penindasan hari ini adalah penindasan sukarela di mana rakyat memilih di tindas oleh otoritas-otoritas dan diam menunggu kematian. Kekuatan terbesar dan senjata terbesar adalah persamaan konsepsi atas melawan kejahatan yang di lakukan pemerintah dan kapitalis, masa akan membarah-barah ketika seluruh keadilan sosial telah di khianati, propaganda kaum penguasa memang layaknya ilusi yang memang dapat terpecahkan atas bantuan kaum-kaum proletariat intelektual. Namun kesatuan bukanlah jalan bagi mereka, sebab jalan yang di tempuh kaum-kaum pemikir ini adalah sebab dan akibat, seperti teori-teori filsafat yang dikemukakan para pendahulu. Terkadang mereka berpura-pura netral terkadang mereka ada di garis terdepan melawan otoritas-otoritas.

Kaum pemikir seharusnya ada bersama ploretariat  menuntaskan dan menuntut keadilan. Kekuatan ini akan menang ketika semuanya bersatu melawan dengan tegas. Ketahuilah bahwa revolusi terjadi atas ketidakbenaran sebuah otoritas yang mengambang serta kebijakan sepihak yang bersifat menindas. Hari ini Minahasa harus melakukan perubahan dalam berbagai aspek sebab jika kita diam dan tidak melawan kita akan segera memasuki “despotisme oligarki” di mana kekuasaan kelompok (keluarga) yang bersifat abadi dan mengarah ke otoritas sepihak atau kebijakan sepihak. Jika dibiarkan kita akan segera menemuinya; “Despotisme Oligarki Minahasa”.[]

Catatan: Penulis adalah aktivis mahasiswa Fakultas Bahasa Dan Seni Universitas Negeri Manado (FBS-UNIMA) jurusan Seni Rupa.

About Redaksi SulutHebat

Media informasi kinerja dan keberhasilan pemerintahan Olly Dondokambey dan Steven Kandouw

Check Also

Kunjungi Pasar Poopo, Saron Dengarkan Keluhan Tibo-tibo

RANOYAPO. SULUTHEBAT.Com. PASAR POOPO boleh dibilang salah satu pasar tua di Minahasa Selatan. Sudah puluhan tahun …