Kaban Kesbangpol Sulut Liow Sebut Jangan Gunakan Politik Identitas di Pilkada

by -941 views
Kaban Kesbangpol Sulut, Steven Evans Liow
Kaban Kesbangpol Sulut, Steven Evans Liow

MANADO, suluthebat.com – Pada 9 Desember 2020 nanti, warga Sulawesi Utara (Sulut) akan melaksanakan pesta demokrasi berbagai daerah Kabupaten / Kota se-Sulut, pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), banyak warga mengaku khawatir dengan semakin menguatnya isu SARA menjelang Pilkada ini. Ini terungkap adanya politik identitas yang dilakukan oleh pendukung salah satu Paslon Gubernur Sulut.

Kaban Kesbangpol Sulut, Steven Evans Liow mengatakan, Sulut dikenal sebagai daerah dengan rasa toleransi yang tinggi, ini terlihat dari kerukunan antara suku dan umat beragama di berbagai daerah se-Sulut. Keharmonisan suku dan beragama yang sudah terjalin ini, janganlah direcoki dengan kepentingan politik.

“Jangan gunakan politik identitas dan politik agama untuk kepentingan politik, keharmonisan yang sudah terjalin selama ini, adalah yang paling utama bagi kita semua,” terang Liow. (18/9/2020)

Ia menuturkan, selain bisa mengkotak-kotakan masyarakat, isu SARA, menurut Liow juga membuat masyarakat terintimidasim dan berdampak negatif bagi negara dan daerah kita.

“Ketika isu-isu SARA semakin menguat dan politik identitas menguat, maka ada yang merasa terintimidasi. Ada yang kebebasan pendapatnya menjadi terhalang, menjadi takut ketika mengemukakan pendapat. Itu (isu SARA) dan politik identitas itu kan pasti sengaja dibuat secara politik dan itu meniscayakan bahwa kelompoknya yang paling hebat sedang yang lain subordinat. ” terangnya.

Senada juga Ketua Satgas FKDM Sulut Adv. EK Tindangen, SH, CPrM, CPCLE, Ia menuturkan, sebagai bagian dari Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) dalam mencegah dan mengawasi dini terhadap Konflik sosial seperti gangguan, tindakan, ancaman, keamanan, peristiwa atau bencana di tiap daerah, dan tetap mengawal daerah ini.

“Adanya temuan salah satu pendukung Paslon Gubernur Sulut, yang terindikasi gunakan politik Sara dan politik identitas, sangat disayangkan, karena hal itu, tentunya bisa membuat warga resah, dan tentunya oknum yang ingin memecah persatuan dan kesatuan di Sulut, harus mendapat ganjaran,” ungkapnya .

Penguatan isu SARA, seperti yang diamati Tindangen dari FKDM Sulut, dimanfaatkan oleh elit politik dan pendukung kandidat gubernur untuk memperoleh dukungan warga. Dan sudah saatnya pemeirntah untuk campur tangan, dengan merebaknya politik Sara dan politik Indentitas ini.

“Proses hukum harus dilakukan, media sosial harus diawasi. Dampak dari media sosial adalah orang menjadi asosial dan akibatnya muncul presepsi untuk egois pada pilihan dia dan ini berakibat pada dunia sosial.” Paparnya.

Eka khawatir jika dibiarkan maka penyebaran isu SARA yang terkait dengan pilkada Sulut akan semakin meluas, dan tentunya bisa menjadikan Sulut tidak kondusif.

“Dalam kampanye tidak ada pendidikan politik, namun yang ada pembusukan dan masyarakat semakin intoleran dan itu mengkhawatirkan,” ujarnya.

Tindangen mengharapkan, agar mendukung pendukung Palon, jangan lagi menggunakan politik agama dan identitas identitas sebagai sarana memperoleh suara.

“Kepada tim-tim sukses jangan menjadikan SARA sebagai komoditi alat perolehan suara, dan lebih baik mengangkat acara dan tidak mengangkat isu SARA,” tutupnya.

 

About Author: Redaksi SulutHebat

Gravatar Image
Media informasi dan pembelajaran segala sessuatu tentang potensi Sulawesi Utara yang sangat habat.