• Sat. Dec 4th, 2021

Forum Komunikasi Petani Cap Tikus Sulawesi Utara Gelar Webinar Tentang Cap Tikus

ByRedaksi SulutHebat

Nov 21, 2021

Sulut-suluthebat.com – Dalam rangka mengawal legalitas cap tikus, Forum Komunikasi Petani Cap Tikus Sulawesi Utara mengadakan webinar dengan mengusung tema ‘Menuju Ranperda Legalitas Cap Tikus’. Kegiatan ini digelar secara daring lewat zoom, pada Sabtu (20/11/2021).

Acara ini sukses digelar dengan dipandu oleh Evander Mongkaren, SS sebagai moderator, serta turut menghadirkan Sandra S. Rondonuwu, S. Th, SH (Saron) selaku anggota DPRD Provinsi Sulawesi Utara Dapil Minsel-Mitra, DR. Denni Pinontoan, M. Teol budayawan dan sejarawan sekaligus Dosen di UKIT, DR. Ir. John Tasirin  Dosen UNSRAT, dan Nono. S. A. Sumampouw, MA Peneliti Minuman Tradisional sekaligus Antropolog, sebagai pembicara.

Diberi kesempatan sebagai Pengantar Diskusi Ketua Badan Kehormatan DPRD (Saron) memberikan penguatan bahwa Cap Tikus adalah salah satu bentuk warisan leluhur yang  dibuat dengan hasil karya nenek moyang Minahasa sendiri.
“Cap tikus adalah kearifan lokal yang sudah ada turun temurun di tanah Minahasa, bahkan Cap Tikus mampu membawa dampak positif yang begitu besar kepada para petani cap tikus itu sendiri, buktinya ada beberapa jebolan Doktor, Profesor bahkan Pejabat-pejabat Pemerintahan sukses karena hasil cap tikus. Sangat disayangkan apabila cap tikus dijadikan sebagai suatu bentuk produksi negatif, padahal beberapa fungsi dan manfaat dari minuman ini sudah banyak dan terbukti dirasakan oleh banyak orang apalagi sebagai salah satu penunjang perekonomian yang ada. Mari kawal Legalitas Cap Tikus, jangan mengkriminalisasikan cap tikus”. Ujar Saron.

Disamping itu beberapa penguatan tentang cap tikus juga disampaikan oleh salah satu Dosen Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT) yang juga adalah Budayawan dan Sejarahwan DR. Denni Pinontoan, M. Teol, dia menjelaskan bahwa fungsi dan manfaat dari cap tikus itu sendiri sudah ada dan digunakan dalam periode waktu yang cukup lama.
“Produksi minuman ini sudah aja sejak zaman duluh, bahkan sebelum muncul istilah Cap Tikus, pengetahuan ini bisa dikatakan cukup melegenda karena para nenek moyang telah berhasil mendestilasi/penyulingan “saguer” menjadi minuman beralkohol. Dan ini sudah menjadi bagian dan tradisi kehidupan berekonomi khas Minahasa sebagai suatu hasil produksi yang juga digunakan pada acara-acara tertentu. Bahkan beberapa catatan yang saya baca cap tikus bahkan menjadi primadona di zaman kolonial”. Ujar Denni.

Denni menambahkan bahwa kemudian perlu adanya legalitas atau aturan yang mengatur perlindungan terhadap warisan leluhur ini agar tetap terjaga dan lestari.

Diskusi semakin menarik ketika Nono S. A Sumampouw, membawakan materi tentang silang budaya yang terjadi pada minuman tradisional cap tikus ini. Penelitiannya tentang cap tikus juga sudah diterbitkan dalam sebuah bukunya yang berjudul Batifar, Saguer, Cap Tikus: Peta Sejarah & Sosial Budaya Aktivitas Serta Produk Tradisional Minahasa.
Bersamaan dengan itu DR. Ir. John Tasirin juga menjelaskan tentang fisiologi pohon aren yang menambah wawasan pengetahuan tentang perkembangan pohon aren itu sendiri.

Dalam kegiatan webinar ini, selain peserta dari masyarakat Sulawesi Utara, juga dihadiri oleh beberapa orang dari luar Sulut seperti Jawa, Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi Tengah.
Peserta seminar yang ada, turut bersepakat mengawal dan bersedia membuat beberapa kajian demi terlaksananya Perda legalitas tentang cap tikus. (Budz)

Redaksi SulutHebat

Media informasi dan inspirasi pembangunan Sulawesi Utara yang semakin hebat...