• Thu. Dec 2nd, 2021

Menhan Prabowo : Kelompok Garis Keras di Indonesia Dipengaruhi ISIS dan Alqaeda

Byadmin

Nov 22, 2021
Menhan Prabowo Subianto

Bahrain, suluthebat.com – Menteri Pertahanan, Prabowo Subianto, mengungkapkan hingga saat ini masih banyak kelompok garis keras di Indonesia yang kegiatannya dipengaruhi oleh kelompok-kelompok yang berpikiran sama di Timur Tengah.

Prabowo Subianto mengungkapkan hal ini dalam Forum Dialog The 17th International Institute for Strategic Studies (IISS) Manama Dialogue 2021, Sabtu (20/11). Menurutnya, Indonesia berupaya agar ekstremisme yang disebarkan oleh kelompok radikal tersebut tidak tumbuh subur di Indonesia.

Prabowo mengaku Indonesia juga tetap menjaga hubungan baik dengan rekan-rekan di Timur Tengah khususnya yang terkait sektor kontraterorisme dalam rangka kepentingan keamanan Indonesia.

Ia menyebut terkait hubungan antara Al-Qaeda dan Jamaah Islamiyah serta antara ISIS dan afiliasinya di Indonesia, Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

“Kami memantau dengan sangat cermat, dan kami menjaga hubungan baik dengan rekan-rekan di Timur Tengah di sektor kontraterorisme. Secara umum, kami terus mengawasi komplikasi keamanan regional,” ungkap Prabowo.

Dalam Forum Dialog ISS itu, Prabowo mendorong perdamaian dunia dan menyampaikan komitmen Indonesia untuk hubungan yang baik dengan negara sahabat. Menurutnya, saat ini nilai-nilai universal sudah menjadi semakin umum dengan adanya revolusi informasi digital dan nilai-nilai tersebut  adalah keinginan global untuk perdamaian, kebebasan berekspresi, keadilan sosial, kreativitas.

“Mereka yang memegang kekuasaan dan kekuatan di dunia ini perlu berhenti sejenak. Mereka perlu menekankan pada nilai dan aturan, pada penghormatan terhadap hak asasi manusia, pada perlindungan minoritas, pada perlindungan terhadap degradasi lebih lanjut dari lingkungan kita,” ujar Prabowo.

Ia menambahkan bahwa pada akhirnya, kekuatan yang seimbang dengan kebajikan adalah kunci dari perdamaian dunia.

“Pemimpin harus mencerminkan kebajikan dan rasa hormat. Kekuatan-kekuatan besar dunia perlu menghayati ini. Hanya dengan begitulah sejarah akan menilai mereka. Tidak hanya menjadi kekuatan besar, tetapi lebih penting dan abadi, yaitu menjadi Peradaban Besar,” ujar Prabowo.

Indonesia, kata Prabowo, berkomitmen untuk selalu terbuka atas hubungan eksternal dengan senantiasa berusaha mewujudkan atmosfer yang harmonis untuk hidup damai berdampingan bersama semua pihak.

Mengenai sikap dalam hubungan multilateral dengan berbagai negara, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia berkomitmen untuk terus menjaga hubungan baik dengan semua negara dan menjaga netralitas.

“Melalui ASEAN, bersama negara-negara di Kawasan Asia Tenggara, Indonesia akan selalu berusaha membantu menyelesaikan permasalahan antar negara yang muncul dengan prinsip saling menghormati kedaulatan masing-masing negara,” ujarnya.

Adapun terkait bagaimana Indonesia mengartikulasi pertahanan dan keamanan terkait hubungannya dengan Timur Tengah dan negara-negara di Semenanjung Arab, Prabowo menyatakan, sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki hubungan yang sangat erat dengan Timur Tengah.

Oleh karenanya, Indonesia terus mengamati setiap komplikasi yang terjadi pada keamanan regional di Kawasan Timur Tengah, yang dapat berpengaruh terhadap masyarakat akar rumput di Indonesia.

International Institute for Strategic Studies (IISS) Manama Dialogue adalah elemen penting bagi arsitektur keamanan Timur Tengah. IISS adalah forum bagi para menteri, pakar, tokoh pembentuk opini, dan komunitas bisnis sebagai wadah mendiskusikan tantangan keamanan paling mendesak yang terjadi di Timur Tengah dan telah dilaksanakan sejak tahun 2004.

Forum Dialog Internasional yang mengambil tema “Multilateralisme dan Timur Tengah” tersebut menjadi satu momen penting bagi para pembuat kebijakan maupun pemimpin dari seluruh Timur Tengah, Amerika Utara, Eropa, Afrika, dan Asia untuk berdialog dalam upaya menemukan jawaban atas masalah kebijakan paling mendesak di kawasan ini.

Selain itu, dialog ini juga memberikan kesempatan untuk melaksanakan diskusi bilateral dan multilateral, serta menjadi awal terbentuknya kebijakan diplomasi pertahanan dan keamanan regional.