• Thu. Oct 28th, 2021

Boediono: Penanganan Krisis Harus “Right Man In The Right Place”

Byadmin

Sep 22, 2015 ,

JAKARTA, SULUTHEBAT.com — Mantan Wakil Presiden Boediono mengatakan tindakan pengamanan terhadap datangnya krisis harus diputuskan secara cepat, agar tidak menimbulkan ketidakpastian di kalangan pelaku pasar keuangan dan masyarakat.

“Situasi yang cepat berubah dalam krisis membutuhkan kecepatan pengambilan keputusan. Banyak ketidakpastian selama proses pengambilan keputusan sehingga hal terpenting yang harus dilakukan adalah meminimalkan ketidakpastian,” katanya di Jakarta, Selasa (22/9/2015).

Boediono mengungkapkan hal tersebut dalam acara seminar “Managing Financial Turbulence” yang diadakan dalam rangka Hari Ulang Tahun Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ke 10 yang dihadiri oleh mantan Chairman of Federal Deposit Insurance Corporation/FDIC Sheila Bair dan mantan Menteri Keuangan Inggris Alistair Darling.

Ia mengatakan antisipasi terhadap kemungkinan datangnya krisis harus dilakukan sejak jauh hari pada masa normal dan komunikasi antar otoritas terkait pada masa itu harus lebih efektif agar pengambilan keputusan bisa dilakukan berdasarkan informasi yang memadai serta akal sehat.

“Pelajaran berharga ketika terjadi krisis adalah pengambilan keputusan harus diambil oleh right person in the right place dan prosesnya harus dimulai pada saat situasinya normal karena bertahan dari krisis tidak mudah, dan secara realistis kita juga harus meminimalisir cost,” ujar Boediono.

Namun, Boediono mengatakan pengambilan keputusan yang didasarkan dengan terburu-buru dan tidak layak, justru makin menjerumuskan dan konsekuensinya malah memberatkan masyarakat seperti ketika terjadi krisis finansial 1997-1998.

“Dalam waktu tiga bulan pada 1997-1998 kita tidak mempunyai kebijakan yang layak, padahal pada waktu itu krisis sudah berlangsung. Situasi pun makin memburuk dan bank-bank terancam. Tapi kita belajar dari periode itu, dan kita lebih baik dalam menangani krisis pada 2008 dengan respon bagus,” katanya.

Psikologi pasar

Boediono juga mengingatkan pentingnya untuk menangani psikologi pasar dan mendorong peningkatan komunikasi ketika terjadi krisis, karena salah mengelola ekspektasi dan rumor secara berlebihan maka kepercayaan publik akan hilang.

“Dulu pada November 1997, pemerintah menutup beberapa bank, dalam beberapa jam rumor merebak beberapa bank akan menyusul. Meskipun pada waktu itu, pemerintah telah menjamin simpanan (blanket guarantee), namun masyarakat tetap khawatir. Episode itu memberikan pelajaran risk contagion juga harus diupayakan,” jelasnya.

Untuk itu, mantan Gubernur Bank Indonesia itu mengingatkan pentingnya mengambil pelajaran dari berbagai krisis terdahulu agar ketahanan ekonomi lebih siap dalam menghadapi gejolak dan mengatasi berbagai persoalan sosial lainnya.