• Thu. Dec 2nd, 2021

Mereka Hanya Bayar Listrik Rp 6.000 Per Bulan

Byadmin

Sep 22, 2015 ,

SANGIHE, SULUTHEBAT.com — Saat malam menjemput di Pulau Kawaluso, Kecamatan Kepulauan Marore, Sulawesi Utara, beberapa ibu datang berkumpul di samping rumah kepala desa setempat.

Sebuah televisi yang tersambung dengan antena parabola menjadi tujuan mereka. Menonton acara televisi kini menjadi salah satu hiburan warga desa saat malam tiba. Perangkat televisi itu milik desa yang dibeli agar warga yang tidak mampu bisa menonton juga.

Dulunya, televisi adalah barang mewah, bukan karena soal harganya, melainkan tak ada tenaga listrik untuk menghidupkannya. Kalaupun ada, itu hanya bisa dimiliki warga yang mampu membeli genset.

“Kami membeli solar saat ada kapal merapat, satu galon seharga Rp 150.000. Dalam sebulan, paling kurang kami harus habiskan dua galon untuk genset. Tapi, kini genset tidak lagi dioperasikan karena sudah ada tenaga listrik matahari,” ujar Kepala Urusan Pemerintahan Desa Kawaluso Hery Totaeng.

Tenaga listrik matahari yang dimaksud oleh Totaeng adalah sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terpusat berkapasitas 50 kWp yang dibangun oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI yang bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan RI.

PLTS itu menerangi semua rumah warga di Pulau Kawaluso sebanyak 195 pelanggan rumah tangga. Dengan pasokan listrik sebesar itu, warga Kawaluso hanya dibebankan biaya iuran listrik Rp 6.000 per bulan. Iuran itu untuk biaya operasional Kelompok Pengelola Listrik Desa dan menjadi dana cadangan jika ada kendala yang harus dibiayai.

“Masing-masing rumah mendapat jatah harian 450 watt yang dikontrol lewat peralatan kWh limiter. Jadi semuanya adil mendapat pasokan listrik yang sama,” kata Kepala Desa Kawaluso, Benny Barahama, Selasa (22/9/2015).

Benny menjelaskan, selain PLTS Terpusat 50 kWp tersebut, ada pula PLTS Terpusat berkapasitas 15 kWp yang dibangun Kementerian Desa sebelumnya. Pasokan listrik dari PLTS tersebut digunakan untuk kepentingan dan fasilitas umum, seperti penerangan di gedung gereja, masjid, dan pasokan listrik saat warga menggelar hajatan.

Televisi yang terpasang di samping rumah kepala desa itu disuplai dari PLTS Terpusat 15 kwP. Jadi tidak mengganggu daya dari yang 50 kWp. Kini Pulau Kawaluso pun surplus listrik yang rencananya akan dimanfaatkan untuk meningkatkan ekenomi produktif warga.

“Kami berencana membeli peralatan pembuat es karena masyarakat di Kawaluso umumnya bekerja sebagai nelayan. Es sangat diperlukan. Mungkin dananya bisa diambil dari iuran listrik itu. Tahun depan akan coba dinaikkan hingga Rp 10.000 per bulan,” ujar Barahama.

Kini pelajar sekolah dasar di Kawaluso sudah bisa mengerjakan pekerjaan rumah mereka saat malam hari. Dulunya, jika ingin belajar, mereka terkendala dengan penerangan yang hanya tersedia dari lampu sumbu seadanya yang diberi minyak tanah.

Jalan-jalan desa pun kini menjadi terang dan warga tidak lagi takut untuk keluar dari rumah. Sang surya tidak hanya bersinar saat siang hari, tetapi terus menerangi hingga hingga malam hari lewat teknologi konversi tenaga surya menjadi listrik.

Penyediaan energi terbarukan matahari menjadi listrik itu juga dirasakan warga yang mendiami pulau-pulau lainnya di Kepulauan Marore, seperti Pulau Matutuang, Pulau Kawio, Pulau Kemboleng, dan Pulau Marore. Di pulau-pulau itu juga sudah dibangun PLTS Terpusat.