• Sat. Dec 4th, 2021

Kisah Cinta Olly Pada PDI Perjuangan

ByRedaksi SulutHebat

Nov 25, 2015

news_5654ed037a742.olly-dppMANADO, 4 Mei 1982. Pemerintah menggelar Pemilihan Umum (Pemilu). Saa itu, pemerintah Orde Baru sedang jaya-jayanya. Seperti pemilu-pemilu sebelumnya yang digelar pemerintah Orde Baru, Partai Demokrasi Indonesia (PDI) menjadi salah satu dari tiga kontestan. Angka 3 menjadi nomor khas partai berlambang kepala Banteng itu.

PDI tentu hanya menjadi peserta penggembira. Pemenang Pemilu sudah dipastikan. Di sejumlah wilayah, aparat berlomba-lomba guna memastikan tak ada pesaing untuk partai penguasa. Karena itu, ketika ada anak muda berusia 21 tahun mengajukan diri menjadi saksi untuk PDI di salah satu Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Manado, banyak warga yang kaget.

Anak muda itu, Olly Dondokambey tenang-tenang saja dan tak menghiraukan tatapan mata penuh tanya bercampur sinis dari warga. Dia juga tak menghiraukan sorot mata kesal bercampur gemas dari aparat pemerintah yang menyadari bahwa di TPS itu sudah “tercemar” karena ada pihak yang memilih nomor 3.

PDI, partai di mana Olly Dondokambey muda menjadi saksi tentu saja kalah. Tak hanya di TPS itu. Di seluruh Indonesia suara PDI kalah total. Tapi itu tak menyurutkan kecintaan Olly pada PDI.

“Sejak muda saya mengidolakan Soekarno, presiden RI pertama sekaligus proklamator. Itu yang membuat saya memilih PDI karena partai itu mewarisi nilai perjuangan yang dilahirkan Bung Karno,” cerita Olly.

Ketika terjadi pergolakan politik yang memunculkan PDI Perjuangan, Olly memilih beralih ke partai dengan lambang Banteng Moncong Putih itu. Apalagi, sejak didirikan, PDI Perjuangan dipimpin oleh Megawati Soekarnoputri, putri kandung Ir Soekarno.

“Saya merasa cocok dengan platform yang diusung PDI Perjuangan,” kata Olly. “Sejak didirikan, PDI Perjuangan memberi perhatian yang sangat besar pada wong cilik. Pada masyarakat kelas bawah. Dan itu sesuai dengan yang saya inginkan.”

Di Manado, Olly memutuskan untuk ikut ambil bagian dalam organisasi. Karir politiknya dimulai dengan menjadi Wakil Bendahara Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Manado. Kiprahnya di DPC Manado membuat Olly kemudian terpilih Wakil Bendahara Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDIP Sulut.

Setelah terpilih sebagai anggota DPR RI mewakili PDI Perjuangan, Olly memasuki babak baru dalam pengabdiannya ke partai. Dia dipercaya masuk ke jajaran Dewan Pimpinan Pusat (DPP). Pengalaman menjadi wakil bendahara di DPC Manado dan DPD Sulut menjadi modal berharga baginya ketika terpilih sebagai Bendahara DPP PDIP. Di lingkup DPR, Olly terpilih menjadi Ketua Fraksi PDIP.

“Dipercaya menjadi bendahara pada parta sebesar PDI Perjuangan itu merupakan kehormatan sekaligus kepercayaan yang sangat besar. Dan saya mencoba menjawab kehormatan dan kepercayaan itu semaksimal mungkin,” kata Olly.

D bawah kendali Olly, lalu-lintas keuangan PDI P berjalan dinamis dan sehat. Olly juga yang menjadi motor munculnya kebijakan Dana Gotong Royong, yakni menghimpun iuran dari anggota untuk memperkuat keuangan partai.

Di penghujung 2015, Olly Dondokambey diberi tugas baru oleh partai: Menjadi calon gubernur Sulawesi Utara (Sulut). Konsekuensi dari pencalonan ini adalah, Olly harus melepas atribut sebagai anggota DPR, sekaligus tugasnya sebagai Ketua Fraksi PDIP di DPR RI.

“Itu konsekuensi dari perjuangan. Sesuai aturan, saya harus mundur dari DPR. Dan itu yang saya lakukan. Itu semua demi pengabdian dan kecintaan saya pada Sulawesi Utara,” katanya.

Sejak pertama kali menjadi saksi untuk PDI hingga menjadi Bendahara Umum PDI Perjuangan, Olly telah memperlihatkan kecintaan yang sangat besar pada partai. Namun, kecintaan pada partai dikalahkan oleh kecintaan pada tanah kelahirannya.

Olly mencintai PDIP. Namun dia lebih mencintai Sulut!! (*)

Redaksi SulutHebat

Media informasi dan inspirasi pembangunan Sulawesi Utara yang semakin hebat...