• Wed. Oct 27th, 2021

Menelusuri Sejarah Kampung Cina di Manado, Catatan: Sofyan Jimmy Yosadi, SH

ByRedaksi SulutHebat

Feb 3, 2016
Tahun 2016, Pemerintah Sulawesi Utara berupaya mengenjot sektor pariwisata. Program ‘Mari Jo Ka Manado” telah dicanangkan Pejabat Gubernur Sulut dan untuk mendukung program tersebut maka Pemerintah kota Manado membentuk badan promosi pariwisata yang disebut Manado Tourism Board. Upaya maksimal dilakukan berbagai pihak untuk mendukung program peningkatan pariwisata  termasuk kedatangan 2000 turis asal Tiongkok ke Manado di awal tahun 2016 ini. Kawasan wisata Bendar di pusat kota Manado merupakan salah satu ikon wisata kota yang berkaitan dengan kawasan lama yang disebut Kampung Cina di Manado. Tulisan ini merupakan salah satu dukungan moril bagi program pariwisata tersebut, yang diambil dari penelitian untuk penerbitan buku karya penulis “Sejarah dan eksistensi etnis Tionghoa di Sulut”. Momentum ini bertepatan pula dengan  perayaan tahun baru Imlek 2567 Kongzili dan perayaan Capgomeh.      
Kampung Cina adalah suatu kawasan yg mayoritas penghuninya adalah masyarakat Tionghoa. Peristiwa pembunuhan dan pembantaian terhadap orang Tionghoa(Chinezenmoord) di Batavia tahun 1740 pada masa Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier merupakan awal terbentuknya kawasan khusus bagi orang-orang Tionghoa di Nusantara. Kebijakan pemerintah Hindia Belanda pasca peristiwa 1740 yang memberlakukan wijkenstelselmembuat orang Tionghoa bermukim di tempat yang sudah ditentukan (Ghetto) agar mudah diawasi. Ghetto inilah yang kemudian berkembang menjadi kampung Cina yang dipimpin seorang Wijkmeester (Loh tia) yang setara hukum Tua atau Lurah. Adapun pecinan merupakan sebutan khas di pulau Jawa.         
Imigran atau perantau Tionghoa asal Tiongkok disebut Huaqiao (Hoa Kiau). Namun, Wang Gungwu mengelompokkan perantau asal Tiongkok ini dalam empat kelompok. Pertama, Huashang atau pedagang Tionghoa yang merupakan kelompok penting dalam sejarah migrasi imigran Tiongkok yang kebanyakan dari sub etnis Hokkian dan Hakka. Kedua, Huagong atau para pekerja, buruh dan petani tanpa tanah, pengangguran serta pekerja miskin perkotaan di Tiongkok. Ketiga, Huaqiau adalah kelompok imigran yang datang dengan kesadaran meninggalkan Tiongkok untuk merubah nasib. Keempat, Huayi atau keturunan Tionghoa yang sudah menetap lama dan melahirkan keturunan atau generasi kesekian di Nusantara.        
Interaksi perantau Tionghoa di Manado dimulai saat bangsa Eropa datang ke tanah Minahasa dengan membawa pekerja orang Tionghoa. Bangsa Portugis yang dipimpin Simao d’abreu tiba di tanah Minahasa tahun 1523.Adapun bangsa Spanyol yang disebut orang Tasikela (Kastela) menginjakkan kakinya di tanah Minahasa tahun 1530. Dari catatan sejarah,pemukiman orang Tionghoa di Manado berawalpada tahun 1607 saat Gubernur Maluku Admiral Mattelief de Jong mengirim sebuah Jung Cina untuk membeli beras di tanah Minahasa. Saat itu di Tiongkok, Dinasti Ming (1368-1643) sedang berkuasa. Tahun 1608 Kapal Belanda yg dipimpin Jan Lodewijkkz Rossinggeyn mendarat di Tanah Minahasa dan mendirikan Loji tempat mengumpulkan hasil bumi. Loji ini kemudin diberi nama Loji Manado yang merupakan asal kata Manandou, tempat membuat garam bagi subetnis Tombulu MinahasaBeberapa waktu kemudian, Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1655  membuat benteng kayu di Manadodan diberi nama Nederlanche Vasticheijt.
. Tahun 1673 benteng dari kayu direnovasidan diganti dengan benteng yang terbuat daribeton dan diberi nama Fort Amsterdam. Proses renovasi benteng ini selesai pada tahun 1703yang dipimpin  Henry Duchiels. Benteng Fort Amsterdam dilengkapi pos penjagaan utk mengawasi lintas perdagangan, sekarang lokasibenteng ini disebut pasar 45. Interaksi perantau Tionghoa semakin intens, seiring waktu perantau Tionghoa terus berdatangan ke Manado.
Di belakang benteng Fort Amsterdam ini mulailah dibangun Ghetto (Loh Tia) yang merupakan sebuah kawasan pemukiman orang Tionghoa di Manado yang kemudian disebut Kampung Cina. Bersebelahan dengan kampung Cina terdapat kampung Arab. Tujuan pemukiman berdasarkan etnis ini menurut pemerintah kolonial adalah lebih mempermudah pengawasan. Untukmenjaga ketertiban di kampung Cina maka diangkat seorang Wijkmeester, setara Hukum Tua atau lurah. Adapun sebutan untuk pemimpin Tionghoa yang lebih tinggi dari seorang Wijkmeester adalah Luitenant dan Kapitein der Chinezeen. Beberapa nama yang pernah menjabat Wijkmeester di kampung Cina (Letter G) diantaranya Pauw Djoe, Tjoa Tjaoe Hoei dan Tjia Pak Liem. Adapun yang menjabat pemimpin Tionghoa di Manado dengan sebutan Luitenant diantaranya Que Ing Hin, Ong Bond Jie, Tan Bian Loe. Beberapa nama pemimpin Tionghoa dengan sebutan Kapiten Cina (Kapitein der Chinezeen)adalah The Tjien Tjo, Sie Sieuw, Ong Seng Hie,Lie Tjeng Lok, Tan Tjin Bie,  Oei Pek Yong, Lie Goan Oan, Tjia Goan Tjong, dll.
Kampung Cina Manado pernah mengalami beberapa kali bencana diantaranya kebakaran hebat pada bulan September tahun 188yang meluluhlantakkan kawasan Kampung Cina. Saat itu Kapiten Cina dijabat Ong Tjeng Hie yang dikenal sangat dermawan hingga banyak membantu masyarakat Kampung Cina. Bencana kebakaran saat itu ditaksir kerugian mencapai dua juta Gulden. Tahun 1883, Kawasan Kampung Cina mengalami banjir besar, mengingatkan peristiwa banjir bandang yang menimpa kota Manado pada tanggal 15 Januari 2014 lalu.
Kawasan Kampung Cina meninggalkan jejak sejarah berupa  pekuburan Tionghoa pertama yang terletak di lokasi gunung Wenang. Di lokasi pekuburan Tionghoa ini kemudian dibangun rumah ibadat Tjeng Beng Su pada tahun 1825 yang tanahnya dibeli dari Datuk Roring, disebelah bagian utara gunung Wenang. Lokasi pekuburan Tionghoa ini kemudian dipindahkan oleh pemerintah Hindia Belanda tahun 1848 ke daerah Teling kampung Mahakeret. Tanah lokasi pekuburan disumbang oleh seorang yang bernama Tan Kiem Bie Nio. Kawasan  pekuburan Tionghoa di Teling kemudian dikelola oleh perkumpulan Kong Djoe Sin Tong yang didirikan pada tanggal 8 April 1902. Kemudian berdiri pula perkumpulan amal Hok Seng Hwee. Oleh pemerintah Hindia Belanda lokasi lama bekas pekuburan Tionghoa dibangun rumah sakit yg diberi nama “Koningen Wilheemina Ziekenhuis”dan berubah nama menjadi rumah sakit Gunung Wenang. Setelah rumah sakit gunung Wenang pindah ke daerah Malalayang, kini hotel Peninsula.  Tahun 1961 pekuburan Tionghoa Teling di tutup pemerintah kota Manado dan  dipindahkan ke pekuburan Paal 2.
Dalam suatu kawasan kampung Cinabiasanya identik dengan berdirinya Klenteng. Masyarakat Tionghoa kemudian membangun Klenteng pertama dengan nama Klenteng Ban Hing Kiong. Ada beberapa catatan sejarah menyatakan bahwa Klenteng ini dibangun jauh sebelum dibuat semi permanen, bahkan ada dokumen yang menyatakan bahwa Klenteng Ban Hing Kiong sudah dibangun sejak tahun 1719. Sedangkan bangunan semi permanen dibanguntahun 1819. Awalnya bangunan Klenteng berdinding nipah (nibong) dan beratapkan rumbia kemudian diganti dengan dinding yang terbuat dari papan dan beratap seng.
Klenteng Ban Hing Kiong sejak dibangun hingga saat ini, tempat pemujaan utama altar tengah adalah Ma Zu (Ma Co) sebutan untuk Shen Ming yang bergelar Tian Shang Sheng Mu (Thian Siang Sheng Bo). Di sebelah kiri terdapat altar Guang Ze Zun Wang (Kong Tek Cun Ong) dan sebelah kanan terdapat altar Fu De Zheng Shen (Hok Tek Cing Sien).
Klenteng ban Hing Kiong sempat dipugar pada tahun 1854 hingga 1859Kemudian dipugar lagi pada tahun 1895  1902. Tanggal 14 Maret 1970 Klenteng Ban Hing Kiong dibakar akibat kerusuhan berdimensi SARA. Klenteng Ban Hing Kiong kemudian dibangun kembali pada tahun 1971  1972 saat Soei Swie Goan (Nyong Loho) menjabat sebagai Ketua Klenteng.
Pada masa lalu, untuk mengurus Klenteng, biasanya Kapitein Cina mengangkat Kethio-kethio sebagai kepala agama. Tahun 1906 berdiri perkumpulan “De Chineesche Gemente Toapekong Manado” yang berbadan hukum untukmengurus aset Klenteng Ban Hing Kiong, pada tanggal 26 Maret 1960 perkumpulan ini berubah nama menjadi “Perkumpulan amal Toapekong”. Bulan Mei 1935 atas upaya Yo Sioe Sien & Que Boen Tjien berdirilah perkumpulan Sam Khauw Hwee yg mengatur berbagai keperluan Klenteng Ban Hing Kiong dan memberi penerangan agama. Pasca dibangunnya kembali Klenteng Ban Hing Kiong akibat terbakar di tahun 1972,berdiri Majelis Agama Khonghucu Indonesia (Makin) Manado yang berpusat di Klenteng Ban Hing Kiong. Makin Manado bernaung dibawah Majelis Tinggi Agama Khonghucu indonesia (MATAKIN) dengan ketua pertama Soei Swie Goan (Nyong Loho). Tahun 1984 akibat politik rezim orde baru yang mengeluarkan berbagai keputusan hukum yang sangat diskriminatifterhadap agama Khonghucu maka Klenteng Ban Hing Kiong bernaung dibawah Perhimpunan Tempat Ibadat Tridharma (PTITD) hingga saat ini.
Setelah Klenteng Ban Hing Kiong berdiri di kawasan kampung Cina, menyusul kemudian pada tahun 1839 dibangun Rumah Abu “Kong Tek Su” yang  merupakan tempat penghormatan kepada para leluhur. Beberapa Klenteng menyusul dibangun yakni Klenteng Na To Koanpada tahun 1959, kemudian berubah nama menjadi Klenteng Lo Cia, dan sejak tahun 2005 dinamakan Klenteng Thian Tan Kiong (Altar Agung). Klenteng Kwan Kong dibangun tahun1967 dan menyusul Klenteng Kwan Im Tong. Tahun 1984 saat kebaktian Khonghucu mulai dilaksanakan di sekolah Garuda, dulunya gedung sekolah Tionghoa Yok Tjaedibangunlah Litang Gerbang Kebajikan dengan lembaga Makin Manado yang menaunginya.
Umumnya masyarakat Tionghoa beraktifitas sebagai pedagang. usaha dagangdalam skala besar yang terkenal di Manadoadalah Firma NV Lie Bun Yat & Co. Namun firmaatau perusahaan besar yang dianggap perintisdan dibangun di Kampung Cina adalah milikWijkmeester kampung Cina Tan Tjin Bie yangkelak menjadi Kapitein Cina ManadoBulan Juni 1905 bersama dengan Tan Tjin Giok dan pengusaha B.A. Renesse van Duivenbode, Tan Tjin Bie mendirikan Firma Giok Bie en co. Firma lain yg terkenal adalah NV Liem Oei Tiong & Co.Pada tahun 1923, Liem Oei Tiong menerbitkan mingguan berbahasa Tionghoa Melayu bernama Keng Hwaa Po. Selain itu terdapat pula media lain yang terbit mingguan bernama Fikiran yang merupakan milik NV Lie Boen Yat. Walaupun saat ini kawasan Kampung Cina tidak lagi dihuni mayoritas masyarakat Tionghoa, namun beberapa pertokoan di kampung Cina yang sangat akrab dan dikenal luas oleh penduduk kota Manado maupun masyarakat Sulawesi Utarahingga kini masih terus eksis seperti toko obat Cina Tek Ho Long  dan toko Lie Thay, toko sembako Hap Hoo, rumah Makan Tjiet Hien danFu Wah, toko Kain Thay Hoo yang sekarangbernama toko Kerawang, juga pabrik anggurminuman beralkohol merek Kasegaran FO dulunya Fae On Jok Fong.
Pada tanggal 27 Januari 1907 berdiri perkumpulan Yok Tjae Hak Tong dengan tujuan mendirikan sekolah Tionghoa. Pada tanggal 12Oktober 1909, pemerintah Hindia Belanda mendirikan sekolah Hollandsch Chineesche School (HCS) di Manado yang bertujuan agar anak-anak Tionghoa dapat bersekolah dan dididik dengan pendidikan Eropa. Tahun 1915 berdiri sekolah Tionghoa pertama di Manado dengannama Yok Tjae yg berarti tempat belajar. Semula Yok Tjae hanya diperuntukkan bagi orang-orangsub etnis Kanton namun karena ketidakpuasan orang-orang Tionghoa Hokkian maka menyusulkemudian berdiri sekolah Tionghoa lain yang bernama Chung Hwa pada tahun 1924 dan Chung San pada tahun 1953. Tahun 1959beberapa sekolah Tionghoa yang dianggap berafiliasi dengan Taipei Taiwan ditutup pemerintah. Pasca peristiwa PRRI Permesta, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Nasution pada tanggal 16 Oktober 1958 mengeluarkan peraturan yang melarang sekolah-sekolah Tionghoa yang ada hubungan dengan Taiwan dan tidak mempunyai hubungan diplomatik. Sedangkan sekolah Tionghoa yang dianggap berafiliasi dengan Peking Tiongkok ditutup tahun 1966 pasca putusnya hubungan diplomatik dengan Tiongkok. Tanah dan gedung sekolah Tionghoa diambil alih negara dan diperuntukkan bagi kepentingan lain, namun ada juga yang dikembalikan kepada komunitas Tionghoa.       
Jejak-jejak gedung sekolah Tionghoa di Kampung Cina seperti Yok Tjae sekarang adalah lokasi sekolah Garuda yang dikelola Yayasan Garuda yang didirikan oleh Majelis Khonghucudan merupakan aset Majelis agama Khonghucu Manado yang berada di lokasi jalan Panjaitan dan disampingnya berdiri Litang tempat kebaktian umat Khonghucu. Sekolah Chung Hwa sekarang berdiri sekolah Kristen yang lebih dikenal dengannama sekolah YPKM merujuk pada yayasan yang mengelolanya yang terletak di jalan dr. Sutomodulunya jalan Serimpi. Adapun lokasi sekolah Tionghoa Chung San sekarang telah berdirigedung Kantor Polsek Wenang.
Peninggalan sejarah lainnya di Kampung Cina Manadotahun 1913 berdiri perkumpulan Siong Boe Tjong Hwee yang merupakan perkumpulan orang-orang Kanton yg terdiri dari para tukang seperti tukang kayu dan tukang batu. Masyarakat Tionghoa Manado juga memiliki perkumpulan sosial berbadan hukum bernamaTjeng Lian Hwee yang didirikan tahun 1921.Perkumpulan sosial ini bergerak di bidang sosial semisal tuberclosefonds, kindervacantie-kolonie dan Haktongfonds. Beberapa kali terjadi bencana di Kepulauan Sanger dan di Minahasa, masyarakat Tionghoa banyak membantu meringankan penderitaan korban bencana. Diantaranya, tahun 1932 ketika terjadi gempa bumi besar di Minahasa, masyarakat Tionghoa melakukan aksi amal pada bulan Mei dan Agustus 1932. Untuk mengumpulkan bantuankepada para korban, diadakan pemutaran filmDas Lied ist aus di Bioskop Capitol dan Luxor.
Di Kampung Cina juga terdapat perkumpulan Kungfu Loo Pak Hong yang didirikan masyarakat Tionghoa sub etnis Kantonpada tahun 1930. Perkumpulan ini masih eksis dan lebih dikenal saat ini sebagai perkumpulan Barongsai Loo Pak Hong yang berdomisili di lokasi pasar Liliroyordulunya bernama Boncis Straat. Berubah menjadi perkumpulan Barongsai sejak tahun 1955 saat perkumpulan Loo Pak Hong mendatangkan Tiga pasang Barongsai dari Hongkong. Masyarakat Tionghoa terkenal dalam aktivitas di bidang olahraga. Awal tahun 1950-an, beberapa warga Tionghoa Manado membentuk Club Sepakbola Huang Lung yang berarti Naga Kuning dengan pimpinan Soei Swie Goan (Nyong Loho) yang saat itu juga adalah atlit Sulut yang berprestasi di Bulutangkis, Tennis dan Tenis Meja. Club Sepakbola Naga Kuning berada dibawah Gasram (Gabungan Sepak bola Manado) yang kemudian tahun 1959 menjadi Persma. Soei Swie Goan saat itu juga menjadi pimpinan Gasram dan menjadi Bendahara Persma selama 30 tahun. Hingga tahun 60-an bahkan 90-an banyak masyarakat Tionghoa yang menjadi atlit seperti atlit Basket, Sepakbola, Tenis dan Tenis Meja
Di bidang politik, masyarakat Tionghoa terlibat aktif terutama dalam kancah politik lokal.Pada tanggal 1 Juli 1939 berdiri Minahasaraaddan Gemeenteraad Manado. Perwakilan Tionghoa awalnya satu orang yakni Tong Goan Tjae di Gemeenteraad Manado dan Si Lae Hoeat di MinahasaraadKemudian wakil Tionghoa diGemeenteraad menjadi 3 yakni Lie Goan Oan, Sie Tjie Hian dan Tjang Eng Soei. Tahun 1935,Tan Tek Hoe anggota Gemeenteraad Manadodan pedagang lulusan Prins Hendrik school menjadi kandidat kuat anggota Volksraad dari unsur Tionghoa.
            Data kependudukan masyarakat Tionghoa Manado menurut dokumen pemerintah Hindia Belanda sangatlah beragam. Salah satu contoh, menurut catatan dr. P. Bleeker1825 orangTionghoa di Minahasa berjumlah 512 orang. Tahun 1840 berjumlah 510 orang. Pada tahun1849 berjumlah 1.236 dan tahun 1860 sebanyak 1.272. Umumnya bertempat tinggal di Manado, sisanya di Amurang dan kema 2 Tionghoa.Beberapa catatan lain ditulis Oetrus van der Crabdan Nicolaas Graafland.
 
 Saat ini Kampung Cina di Kota Manadotelah terbagi dalam beberapa  wilayah sepertikelurahan Calaca, Pinaesaan, Wenang, dll. Jumlah penduduk Tionghoa saat ini tidak dicatat berdasarkan keturunan karena kebijakan pemerintah menyangkut UU Kewarganegaraan no. 12 tahun 2006 tidak lagi menyebut warga negara asli maupun keturunan Tionghoa.  
 
Penulis : Sofyan Jimmy Yosadi, SH.  (Advokat, Ketua Komunitas Tionghoa Sulut).

Redaksi SulutHebat

Media informasi dan inspirasi pembangunan Sulawesi Utara yang semakin hebat...