• Wed. Oct 27th, 2021

    Warga Desa Tiwoho menolak pengukuran lahan tanah mereka yang dilakukan secara paksa PT Awani Modern Indonesia.

MINUT – Jeritan warga Desa Tiwoho Kecamatan Wori menggema. Mereka tak ikhlas ratusan hektar lahan tanah merka diambil-aliht tak wajar oleh manajemen PT Awani Modern Indonesia. Memuluskan niat penguasaan lahan warga, perusahaan diduga mengintimidasi warga dengan kekuatan Tim Paniki Polresta Manado. Itu terlihat dari ratusan personil polisi memadati lahan tanah di desa Tiwoho, Rabu, (19/04/2017).

“Apa yang dilakukan perusahaan benar-benar tidak mendidik. Aparat kepolisian seharusnya jangan mau diadu dengan masyarakat. Masyarakat kan berjuang tanah milik mereka yang diambil alih dengan cara tidak proporsional oleh perusahaan,” ujar Ketua Umum PAMI-Perjuangan, Noldy Pratasis, kemarin.
Pihaknya meminta Gubernur Sulut Olly Dondokambey menengahi kepentingan rakyat desa Tiwoho yang menjadi korban penipuan atas lahan tanah mereka.
Adapun lahan tanah seluas kurang lebih 120 hektar, awalnya hendak diambil alih PT Awani Modern Indonesia dengan cara membeli. Sayangnya sebagian besar warga tak menerima dana pembelian. Sejumlah warga mengaku kaget lahan mereka tiba-tiba sudah terjual.
“Ini cara-cara Kolonial Belanda zaman dulu, tetapi masih dipraktekan di era kemerdekaan sekarang ini. Kepolisian seharusnya menjalankan fungsi pelayanan, pengayom, serta pelindung masyarakat, bukan dijadikan musuh masyarakat oleh perusahaan tersebut,” papar aktivis ini.
Lucunya, upaya pengukuran lahan tanah yang dilakukan PT Awani Modern Indonesia tanpa diketahui kepada pemerintah desa setempat. Lebih rancu lagi, pengukuran tanah bukan dilakukan Badan Pertanahan Nasional (BPN) tetapi dilakukan konsultan salah satu perguruan tinggi.
Warga pemilik lahan memblokade pengukur tanah dengan membentangkan poster menolak perusahaan tersebut. Hanya saja, Tim Paniki Polresta Manado mudah saja mengamankan warga serta mengawal jalannya pengukuran lahan pihak perusahaan.
Warga histeris saat manajemen PT Awani Modern Indonesia dikawal personil Tim Paniki Polresta Manado memasuki lahan tanah untuk melakukan pengukuran.
“Tidak ada pemberitahuan dari perusahaan kalau mereka akan melakukan pengukuran. Namun sengketa ini nantinya ada mediasi di kantor Polresta Manado hari Jumat ini (21/04) ,” ujar Sonly Woy, Kepala Desa Tiwoho.
Karenanya Kades Woy pun menghentikan aktivitas pengukuran. Anehnya setelah istirahat makan siang, oknum kades memberi kesempatan perusahaan melakukan pengukuran.
Sikap plin-plan oknum Kades Tiwoho sontak mengundang curiga warga yang sedang dilanda histeris. Mereka tetap saja memprotes tindakan pihak perusahaan.
“Kami curiga hukumtua kami berkhianat memihak pada perusahaan. Ingat, sebelum dia (Kades Sonly Woy) jadi Kepala Desa Tiwoho, kami sering menjadi korban. Dan sepertinya kami akan lebih dikorbankan oleh sikap hukumtua,” tutur tokoh masyarakat Desa Tiwoho yang meminta identitasnya tak dipublish.(vanny)

Redaksi SulutHebat

Media informasi dan inspirasi pembangunan Sulawesi Utara yang semakin hebat...