• Wed. Oct 27th, 2021

 

Drs. Lodewyk Bella saat sebagai Dekan FKIS IKIP Manado.

Oleh: Iswan Sual

“Kenal Drs. L. Bella?” Pertanyaan itu selalu terdengar setiap kali aku menyebut asal kampungku kepada orang-orang yang berumur di atas 40 tahun, tatkalah aku bertandang ke kampung- kampung di Minahasa. Tak jarang juga Drs. L. Bella disebut sebagai Dominee Bella, walaupun dia sebenarnya bukan seorang pendeta. Itu terjadi ketika aku bertemu dengan Maria Th. Djamen, seorang guru yang berasal dari Lalumpe, Tondano.

Rupanya sepak terjang Drs. Lodewyk Bella sewaktu menjadi evangelist sangat dikenal di tanah Minahasa. Sehingga mungkin tak berlebihan bila orang-orang menyebutnya sebagai “rasul GMIM”.  Barangkali karena kewibawaan rohani, kharisma dan sikap adaptifnya dengan lingkungan pelayanan. Walaupun dia “fanatik” tapi dia tetap menjunjung tinggi nilai-nilai oikumenis.

Tahun sebelumnya, karena ingin mengetahui apakah Drs. Lodewijk Bella ada di media daring (online) atau tidak, aku mencoba mengetikan namanya pada mesin pencari Google. Hanya ada satu tampilan yang berisi nama Drs. L. Bella, yakni tulisan tentang sejarah GMIM jemaat Winangun Manado. Mengecewakan, karena ternyata apa yang terekam dalam benak orang-orang, tidak demikian dalam catatan lembar sejarah. Bahkan mungkin tak ada catatan mengenai riwayat hidup almarhum yang pernah dibuat oleh pihak sinode GMIM. Padahal, menurut tuturan keluarganya, riwayat Ev. Drs. Lodewyk Bella pernah tergerai di majalah DGW SULUTTENG. Tapi sayangnya, kini tak ada yang tersisa. Habis, karena dibagi-bagikan kepada orang lain.

Masa Kanak-Kanak

Lodewyk Bella dilahirkan di desa Tondei pada 7 Juni 1914 dari seorang ibu bernama Ina Poluakan. Sayangnya, sang ayah meninggal waktu dia masih blum tau orang.  Lodewyk, lalu secara mapalus diasuh oleh Fredrik Bella (keluarga Bella-Sondakh), kakak tirinya yang paling tua dan Denan Bella (keluarga Bella-Kawengian). Untung saja, saat itu kakak-kakaknya laki-laki sudah memiliki penghasilan dari perkebunan pohon kelapa mereka. Sumber lain menyebutkan, dia juga turut diasuh oleh kakak perempuannya, Anaci Bella.

Pengabdian Dalam Dunia Pendidikan

Tamat dari Normaal School, Lodewyk Bella menjadi guru magang atau tenaga pengajar honorer di desa Raanan Lama, Minahasa Selatan. Di kemudian hari dia menikah dengan seorang gadis bernama Liz Oping yang berasal dari desa itu. Lepas itu dia dikirim lagi menjadi guru di Tual, Maluku. Pada zaman penjajahan Jepang itu dia dilaporkan dan ditahan oleh tentara Jepang karena dianggap antek Belanda. Dia ternyata menyimpan buku-buku berbahasa Belanda. Konon saat hendak ditembak oleh tentara Jepang, dia tiba-tiba bisa bahasa Jepang dan ikatan tangannya terbuka. Kala itu dia tinggal satu-satunya yang hidup dari semua orang yang ditangkap. Tentara Jepang pun terkejut. Di rumah, istrinya putus asa dan memutuskan untuk segera mengakhiri hidup dengan cara menggantung diri. Tapi niatnya diurungkan ketika melihat anak bayinya (Godfried Bella) yang masih merayap. Lodewyk ternyata tak jadi dibunuh. Malahan dijadikan komendan (kepala) dapur umum tentara Jepang. Waktu kembali ke rumah dia disangka  mukur (arwah) atau hantunya Lodewyk. Waktu itu sudah menjadi anggapan umum, bila ditangkap Jepang, pasti dia tidak akan kembali lantaran sudah dihabisi. Ternyata, pengecualian pada Lodewyk. Umumnya orang Tual yang kini berumur di atas  70 tahun mengetahui tentang kisah Lodewyk Bella itu. Setelah itu, dia dan keluarganya ditugaskan ke daerah Fakfak, Papua.

Setelah aman dari Perang Dunia II, ia beserta keluarganya kembali ke Minahasa dan dia menjadi guru di Sawangan, Kamangta, yang letaknya tak jauh dari kota Manado. Waktu itu dia tinggal di Mahakeret. Sambil bekerja sebagai guru dia mengikuti pendidikan di Sekolah Guru Atas (SGA), setingkat SMA di Manado.

Pada tahun 1952 dia diangkat menjadi guru dan Direktur (kepala sekolah) SMP Kendari, Sulawesi Selatan. Disamping itu, dia terus mengambil kursus yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (PDK). Dia mendapat kiriman bahan-bahan belajar dari materi-materi kiriman Kementerian PDK. Pada saat dia bertugas di Kendari api gerakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) sedang berkobar. Tapi dia dan keluarga tidak menemui banyak tantangan di sana. Malahan mereka turut membantunya mengangkat alat musik organ untuk dipakai saat pelayanan.  Pada tahun 1954 Lodewyk dimutasikan ke Ujung Pandang atau Makassar, Sulawesi Selatan. Disana dia diberikan jabatan sebagai menjadi guru dan wakil kepala sekolah kejuruan yang bernama Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA).

Tiga tahun kemudian, 1957, Lodewyk dan keluarganya kembali ke Manado. Lodewyk masih terus mengikuti kursus-kursus demi meraih ijasah sarjana. Di samping itu pula dia menjadi guru dan direktur (Kepala Sekolah) di SMEA Negeri di Manado. Setelah ijasah sarjana diterima dia kemudian diangkat sebagai dosen di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP Manado).

Pada 1973-1975 dia menjabat sebagai Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Sosial (FKIS) di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP). Informasi lain menyebutkan bahwa dia menjabat sebagai dekan selama 6 tahun pada masa Prof Drs E.A.Worang menjabat rektor.

Pelayanan Penginjilan

Meski dia sibuk sebagai guru, dosen, dekan,dia tak pernah terlihat santai di rumah. Dia selalu mengisi waktunya di rumah dengan menulis khotbah dan membaca buku. Ketika dia terlihat rileks sambil bersiul pun dia masih mengarang lagu.

Medan pelayanannya adalah berbagai organisasi pemuda, mahasiswa dan gereja. Jadwalnya selalu padat. Hal itu terlihat dari lingkaran-lingkaran merah pada kalender yang terdapat di ruangan kerjanya. Pernah disebut bahwa dia aktif berkontribusi dalam Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI) Manado di 1970-an.

Yang paling diingat orang adalah jadwal berkhotbahnya di radio amatir, radio Kepolisan dan Radio Republik Indonesia (RRI) Manado setiap hari minggu. Tapi sayangnya catatan khotbahnya pernah diambil seseorang (dengan maksud untuk ditulis) tapi tidak dipulangkan. Kaset-kaset khotbahnya pun, yang sering diperdengarkan di gereja-gereja tak diarsipkan oleh manajemen radio-radio dan GMIM.

Sinode Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) pernah mengangkat Lodewyk sebagai anggota Bidang Pekabaran Injil (PI). Yang menarik adalah dia pernah pula diangkat Sinode GMIM sebagai Ketua Jemaat GMIM Dendengan Dalam, Manado. Padahal dia bukan pendeta.

Tak hanya di dalam negeri, dia juga pernah melayani jemaat-jemaat di enam negara. Sebut saja, Singapura, Belanda dan Jepang. Karena pendidikan, personal skill-nya dan tuntunan Roh Kudus dia bisa diterima oleh semua golongan gereja dan kalangan. Penggunaan pendekatan oikumenis sangat kentara ketika dia melayani. Karena itu beberapa kali dia diundang hadir di kongres international evangelism. Antara lain diundang ke Amerika oleh Billy Graham  dan John Haggai.

Keluarga

Perkawinan Lodewyk Bella dengan Liz Oping dikarunia enam anak. Mereka adalah Rosye Bella dinikahi oleh Paul Dwijo Sukamto, Helena (Non) Bella dinikahi Frans Mandei, Tresye (Ani) Bella dinikahi oleh Leo Luli, Godfried (Nyong) Bella menikah dengan Greety Parengkuan, Gritje (Itje) Bella dinikahi Yan Malingkas dan Jemmy Bella yang menikah dengan Lina. Sebelum Lodewyk meninggal dia telah memiliki dua orang cucu. Sekarang dia telah mempunyai lima orang cucu dan satu orang cicit.

Akhir Hidup

Hingga masa pensiunnya di tahun 1980 Ev. Drs. Lodewyk Bella tetap sibuk dalam pekerjaan pelayanan memberitakan injil. Dia meninggal pada 22 Februari 1980. Di usia 65 tahun. Hanya beberapa hari sepulang dari pelayanan terakhirnya di desa Picuan Lama, Minahasa Selatan. Tubuhnya, mulai dirasanya lemah tatkala menunggu kendaraan pulang ke Manado. Ketika tiba di depan rumah tas yang sedang dibawanya jatuh ke tanah. Orang-orang (kebetulan muslim) terkejut dan membantunya menuju ke dalam rumah. Padahal setengah jam kemudian dia hendak dijemput oleh tim untuk pergi melayani di kepulauan Tahuna. Dia dirawat selama satu minggu di rumah sakit Bethesda Tomohon.

Lodewyk meninggal karena sakit yang tak terdiagnosa oleh dokter. Tiap hari perlahan-lahan badannya dingin. Dimulai dari kaki hingga kepala. Seiring itu mulai terjadi gempa bumi. Jenasahnya disemayamkan di IKIP sebelum dibawa ke ladang pekuburan di Teling Atas, Manado.

Riwayat Hidup Singkat Lodewyk Bella

  • Lahir di Tondei 7 Juni 1914
  • Meninggal di Tomohon 22 Februari 1980
  • Pendidikan:
  1. SR di Tondei
  2. Normaal School di Tomohon
  3. Sekolah Menengah Pertama di Tomohon
  4. Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan/IKIP
  • Pengabdian/Penginjilan
  1. Guru magang/tenaga pengajar honorer di Raanan Lama
  2. Guru bantu dari SR/SD (Manado), SMP (Kendari), SMEA (Manado)
  3. Direktur/kepala sekolah mulai SD, SMP, SMEA
  4. Dosen IKIP Manado
  5. Dekan Fakultas Keguruan Ilmu Sosial IKIP 1973-1975Ketua Jemaat Dendengan Dalam
  6. Ikutserta konferensi evanglisasi
  7. Sebagai evangelist di Tanah Minahasa dan daerah-daerah lain di Indonesia dan beberapa negara
  8. Anggota Departemen Pekabaran Injil Sinode GMIM

(Is)

Tim penulis sewaktu mewawancarai Nyong Bella, anak dari Drs. Lodewyk Bella.
Generasi muda yang masih merindukan Drs. Lodewyk Bella saat berziarah ke makamnya.

 

Redaksi SulutHebat

Media informasi dan inspirasi pembangunan Sulawesi Utara yang semakin hebat...