• Thu. Oct 28th, 2021

Oleh: Denni Pinontoan*

Di medsos, orang-orang ramai menulis dan membagikan foto perayaan hari raya Idulfitri. Ini hari raya umat muslim.

Ucapan selamat hari raya Idulfitri lengkap dengan permohohan maaf lahir batin dari ‘penampakkan’ di medsos ramai pula disampaikan oleh umat beragama lain. Ramai orang-orang yang berbeda agama pesiar ke rumah teman, kolega, tetangga atau saudaranya yang muslim.

Foto-foto ‘selfie’ dengan wajah-wajah yang gembira dibagikan. Kue, minuman ringan dan menu-menu khas lebaran ikut dipamerkan di medsos. Ada teman Kristen yang bikin status, katanya, Idulfitri kali ini dinikmatinya seperti suasana Natal pula. Tentu yang dia maksud acara kumpul-kumpul saudara bersaudara, teman atau kolega yang sambil ‘bacirita’ juga makan-makan.

Orang-orang Kristen, atau yang beragama bukan Islam, ikut menikmati lebaran. Pas dengan sebutannya: ‘Hari Besar’ atau ‘Hari Raya’. Hari di mana suasana sungguh berbeda dengan hari–hari biasa sebelumnya yang dipenuhi dengan rutinitas kerja.

Lebaran, apa itu? Menurut MA Salmun dalam artikelnya yang dimuat dalam majalah “Sunda” tahun 1954 (seperti dikutip Antaranews.com), kata “lebaran” berasal dari tradisi Hindu yang berarti “selesai, Usai, atau Habis”. Menandakan habisnya masa puasa.

Kata ‘lebaran’, seperti ditulis di Antaranews.com, bagi orang-orang Betawi dihubungkan dengan kata dasar ‘lebar’, “…yang dapat diartikan luas yang merupakan gambaran keluasan atau kelegaan hati setelah melaksanakan ibadah puasa, serta kegembiraan menyambut hari kemenangan”.

‘Lebaran’ akhirnya menjadi peristiwa sosio-religi. Ini ekspresi keagamaan umat Muslim yang gembira dan senang, ‘usai’ melaksanakan ibadah puasa. Ekspresi ‘keleluasaan’ atau ‘kelegaaan’ hati setelah berpuasa. Pintu hati dibuka lebar untuk menyampaikan dan menerima maaf. Pintu rumah juga dibuka selebar-lebarnya bagi saudara, teman, kolega atau tetangga yang datang bersilahturahmi, menikmati kegembiraan bersama dengan makan bersama pula.

‘Lebaran’, semacam sebuah prosesi, sebuah tanda peralihan dari ruang private (puasa sebagai ibadah) ke ruang sosial sebagai silahturahmi antar sesama teman, saudara, tetangga bertetangga yang majemuk. Maka, jadilah orang-orang Kristen, atau yang beragama apapun, menikmati ‘lebaran’ sebagai hari raya mereka pula.

Makanya, ‘lebaran’ adalah ‘Hari Besar’, hari yang tersedia bagi orang-orang beragama untuk menikmati indahnya kebersamaan yang tulus, tiada amarah dan dendam. Yang ada hanya hati lapang dan tulus menyambut kehadiran ‘orang-orang lain’ bertamu di rumah. Inilah waktu senggang. Sebuah hospitalitas yang sungguh nikmat.

‘Lebaran’ akhirnya mengingatkan kita, semua orang beragama bahwa agama ada di bumi, bukan di awan. Ia ada di ruang sosial, yang memang harus dirayakan dalam kebersamaan. Ia ada di meja makan, duduk sejamuan untuk ‘bacirita’ narasi-narasi kebaikan yang membuat semua orang mengerti bahwa, agama itu ada. Bahwa agama itu adalah massa besar yang saling berbagi kebaikan.

* Penulis adalah dosen Fakultas Teologi Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT)

Redaksi SulutHebat

Media informasi dan inspirasi pembangunan Sulawesi Utara yang semakin hebat...