• Thu. Oct 28th, 2021

 

Karel Nayoan

SULUTHEBAT.COM, Manado Pilkada Serentak tahun 2015 dan 2017, masyarakat tidak melihat partai politik (Parpol) tetapi murni memilih figur. Itulah kegagalan pendidikan politik yang menjadi tanggungjawab partai politik (Parpol).

Hal itu dibeberkan pengamat politik dan pemerintahan, Karel Nayoan saat bersua dengan wartawan suluthebat.com, baru-baru ini.

“Kepala daerah yang terpilih adalah murni karena figur bukan karena peran dari partai politik. Partai politik tidak lebih dari hanya kendaraan bagi calon kepala daerah,” ungkap Akademisi Karel Nayoan.

Lanjut dikatakan, itu adalah kegagalan pendidikan politik yang tidak diperhatikan partai politik. Masyarakat sebagai lading hanya dibiarkan tanpa dibekali pendidikan politik dari parpol.

Parpol hanya muncul jika ada hajatan politik saja. Seharusnya parpol jauh-jauh hari turun ke masyarakat, bukan setor muka kalau sudah dekat-dekat iven politik.

Menariknya Nayoan mencontohkan kepala-kepala daerah yang terpilih pada Pilkada serentak 2015 dan 2017 lalu. Mulai dari Gubernur Olly Dondokambey, Bupati Vonnie Anneke Panambunan, Walikota Bitung Max Lomban, Walikota Vicky Lumentut, Walikota Jimmy Eman, Bupati Christiany Eugenia Paruntu, Bupati Sehan Landjar, Bupati Herson Mayulu, Bupati Yasti S Mokoagow,  Bupati Jabes Gaghana.

“Karena figurlah sehingga mereka terpilih, bukan karena peran dari partai politik. Ini harus diwaspadai setiap parpol pada Pilkada Serentak tahun 2018 mendatang,” ulasnya.

Adapun tujuan dari pendidikan politik, menurut Nayoan, adalah sebagai media mentransformasikan sesuatu yang berkenaan dengan perjuangan partai politik.

“Menghadapi Pilkada Serentak mendatang, ciptakan masyarakat tidak apatis dengan partai politik.  Setidaknya parpol mampu merubah mindset pemilih dengan transformasi program logis sehingga calon terpilih adalah juga andil dari parpol,” pungkasnya.(Vanny)

Redaksi SulutHebat

Media informasi dan inspirasi pembangunan Sulawesi Utara yang semakin hebat...