• Sun. Dec 5th, 2021
SS TOLU kala mementaskan tarian kreasi baru Si Patokaan.

Oleh: Yanli Sengkey

Minahasa dengan segala keunikan dan kelebihannya sendiri, mampu menghasilkan nilai tersendiri bagi masyarakatnya. Yang luhur, bernilai serta berkepribadian membuat masyarakat Minahasa hari ini dari anak-anak, mahasiswa sampai orang dewasa berlomba-lomba mengekspresikan superior Tou Minahasa di masa lalu ke masa kini.

Ada begitu banyak cara yang dipilih untuk mengekspresikan serta merefleksikan kebudayaan Minahasa di masa sekarang, mulai dari ormas adat, komunitas adat serta sanggar tak luput menjadi pilihan Tou (orang) Minahasa dalam menjaga dan melestarikan kearifan lokal.

Ngoni tahu nda? Dunia kampus dengan kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), justru membuat daya kritis mahasiswa merosot berpikir. Kiapa bagitu dang? Landasan berpikir yang termakan arus globalisasi yang membuat fondasi berpikir merosot karena pijakan kebudayaan lemah. Itu sih kita pe pandangan e.

Cuma nda samua katu bagitu. Di Tondano tempat Mahasiswa menimba Ilmu, masih ada kelompok yang peduli dengan kesadaran betapa pentingnya kebudayaan itu dalam menunjang kesadaran berpikir dan berpijak untuk menatap masa depan. Komunitas Sanggar Seni Tetengkoren, merasa terpanggil di tahun 2003 silam untuk mendapat tempat dalam lingkup Fakultas Bahasa dan Seni. Semangat Mapalus kala itu membuat Komunitas Sanggar Seni Tetengkoren mendapat tempat di FBS dan dengan kesepakatan bersama organisasi itu berubah nama menjadi Sanggar Seni Toar-Lumimuut (S.S. TOLU) FBS UNIMA.

Dengan dikeluarkannya Surat Keputusan (SK) no: 1381/j23.3/2004, Organisasi ini mulai bekerja di bawah kepemimpinan Jonatan Worotitjan dan Syully Ropis masing-masing sebagai Ketua dan Sekretaris. Organisasi ini sejak tahun 2004 sampai hari ini tidak pernah mengajarkan hal-hal yang sifatnya primordial, melainkan mengajarkan tetang bagaimana menjaga kebudayaan, tradisi serta cara mengimplementasikan nilai luhur kepada sesama. Melihat hal itu, banyak Mahasiswa yang berasal di luar Tanah Minahasa pun lebih memilih untuk bergabung dengan Organisasi ini.

Kerja-kerja kebudayaan Organisasi ini di awal-awal mendapat cibiran bahkan stigma negatif bagi sebagian Mahasiswa kala itu. Tetapi dengan melihat kurangnya kepedulian Masyarakat terhadap pengembangan Seni dan Budaya serta fenomena kebudayaan asing yang masuk serta berkembang dilingkup kampus, S.S. Tolu semakin bersemangat dengan cita-cita membangun kesadaran masa dengan berlandaskan kebudayaan lokal.

Sanggar yang memilih nama leluhur Minahasa ini, menghasilkan banyak pementasan-pementasan mulai dari drama, teatre, seni lukis, tari tradisional bahkan modern tak luput dari kerja TOLU. Bahkan, kalu ngoni tahu … di Tahun 2006/2007 Organisasi ini sempat melatih Kawasaran kepada salah satu Peserta Pertukaran Pemuda Indonesia Kanada (PPIK) dan di Tahun 2011 adalah masa dimana TOLU di percayakan pihak rektorat mengikuti Pekan Seni Mahasiswa Nasional (PEKSIMINAS) dengan berbagai karya dipentaskan oleh tim hasil binaan Sanggar Seni Toar Lumimuut waktu itu.

Dari hasil berjaringan, meraka boleh menghasilkan berbagai kegiatan di luar kampus bahkan membantu berdirinya beberapa organisasi antara lain, Sanggar Tumondei Minahasa Selatan (STMS) yang berbasis di roong (Desa) Tondei, Sanggar Seni Tou Pager di Poigar dan dibeberapa tempat lain. Melihat gerakan kebudayaan di Tanah Minahasa yang semakin menjalar, Defris Pauran, pengurus S.S TOLU periode 2017/2018 berharap, harus diimbangi oleh hasil dan menjadi kepribadian yang cinta akan tradisi serta mampu mengimplementasikan bukan menggunakan adat dan budaya sebagai kepentingan politik praktis.

_

Pendiri Sanggar Seni-Toar Lumimuut:

– Ruddy Pakasi

– Frangky Sampouw

– Jonatan Worotitjan

– Alvian Sumolang

– Deddy Gosal

– Steven Sambur

– Denny Momongan

– Markus Tine

(YS)

Redaksi SulutHebat

Media informasi dan inspirasi pembangunan Sulawesi Utara yang semakin hebat...