• Sun. May 29th, 2022

Kelapa Dongkrak Perekonomian Sulut Pasca Pandemi Covid – 19

ByRedaksi Sulut Hebat

Dec 18, 2021

SULUTHEBAT.COM – Sulawesi Utara (Sulut) merupakan daerah yang dikenal dengan hasil pertanian yang melimpah. Satu diantaranya adalah tumbuhan kelapa.

Berdasarkan data dari Dinas Perkebunan Sulut, 2020 lalu luas lahan tanaman kelapa
mencapai 262.817,42 hektare (Ha), dan untuk data terakhir jumlah lahan tanaman kelapa adalah 262.817,42 Ha.

Provinsi Sulut di bawah komando Gubernur Olly Dondokambey dan Wagub Steven Kandouw terus memperhatikan kesejahteraan tanaman kelapa di Bumi Nyiur Melambai.

Pasca pandemi Covid-19 yang melanda dunia, termasuk Sulawesi Utara, telah berdampak besar terhadap semua aspek perekonomian masyarakat.

Dalam hal ini, Pemprov Sulut mencari sebuah ide dan terobosan baru demi keselamatan perekonomian masyarakat yang ada.

Pada tahun 2021 produk kelapa menjadi primadona dalam rangkah pertumbuhan ekonomi pasca pandemi dan ekspor kelapa kali ini telah mengangkat perekonomian Sulawesi Utara.

Terobosan yang dilakukan oleh Pemprov Sulut ini pun dinilai positif.
Pengamat Pertanian Sulut Dr. Jhon Tasirin mengaku setuju dengan terobosan yang dilakukan oleh pemerintahan ODSK dalam menjadikan ekspor kelapa sebagai salah satu pendongkrak ekonomi Sulawesi Utara.

“Di Sulawesi Utara, tanaman kelapa merupakan hasil perkebunan penting karena menghidupi jutaan penduduk Sulut sehingga menjadi sumber pendapatan masyarakat pada umumnya sehingga kelapa sebagai salah satu komoditas unggulan di Sulawesi Utara memiliki nilai transaksi dari produksi kelapa, dan ini sangat signifikan sebagai sumber komoditas ekspor dan menempatkan kelapa di urutan pertama sebagai komoditas ekspor,” terangnya.
Lanjutnya, tanaman kelapa ini punya potensi untuk masa depan, selain sebagai minyak goreng, kelapa dapat dijadikan gula aren serta bagian bagian kelapa dari tempurung, serabut dan sebagainya memiliki nilai ekonomi dan nilai jual yang prospektif.

Sebelumnya, Gubernur Olly Dondokambey memastikan akan menyiapkan program peremajaan tanaman kelapa. Tak tanggung-tanggung program peremajaan kelapa tersebut akan dilakukan seluas 2.000 hektare. Program peremajaan kepala tersebut disiapkan, untuk mengganti tanaman kelapa di Sulut, yang pada umumnya telah berusia tua.

Dengan adanya peremajaan kelapa, maka dapat membuat petani makin sejahtera. Pasalnya harga kopra saat ini masih dikisaran 13 ribu perkilogram. Bukan hanya itu, turunan kelapa seperti arang mendapatkan harga yang tinggi. Dengan harga yang tinggi tersebut, membuat petani pekebun bergairah untuk melakukan aktivitas pertanian.

Gubernur OD juga mengatakan bahwa, sektor perkebunan telah menembus puncak dimasa pandemik Covid-19. Hal itu, terbukti dengan partisipasi sektor pertanian di dua tahun terakhir yang mencapai 22 persen terhadap PDRB Sulut. “Gerakan tiga kali ekspor komoditi pertanian, sangat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. Bahkan di dua tahun terakhir, hampir tiga triliun yang berhasil disumbangkan sektor pertanian dan perkebunan. Ini membuktikan bahwa komoditi perkebunan menjanjikan,” terangnya.

Tren ekspor menurut Gubernur OD akan terus dipertahankan bahkan ditingkatkan, sehingga harga kopra, pala, cengkih dan vanili akan terus mendapatkan harga jaul yang tinggi. “Selain itu, kualitas juga yang utama untuk diperhatikan. Agar supaya jangan terbuai dengan tuntutan yang besar, dan kualitas terabaikan. Untuk menjaga agar kegiatan ekspor ini tetap berkesinambungan ada tiga hal. Yang pertama menjaga kualitas, kuantitas dan kontinuitas. Jika semua itu telah terpenuhi, maka saya yakin kegiatan tiga kali ekspor komoditi perkebunan akan terus berlanjut,” sebutnya.

Gubernur OD juga mengatakan bahwa, selain pohon kelapa yang akan ditambah, pihaknya juga bakal membangun kawasan-kawasan komoditi. “Itu dimaksudkan agar produksi tetap terjamin dengan korporasi petani. Jadi lahannya dibangun dalam satu kawasan, dan petaninya dibuatkan korporasi. Kalau untuk sekarang, produksi kepala di Sulut masih dipegang Minahasa Utara, kemudian ada Minahasa Tenggara, Minahasa Selatan dan posisi keempat ada Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Ya kita terus berharap agar harga kopra ini terus naik,” kuncinya.

Redaksi Sulut Hebat

Media informasi dan inspirasi pembangunan Sulawesi Utara yang semakin hebat...