• Sun. May 29th, 2022

Waspada Sebaran Flu Afrika! Di Kalbar 44.322 Babi Mati Terinfeksi

PONTIANAK, suluthebat.com- ┬áKepala Dinas Pangan Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalimantan Barat (Kalbar) M Munsif menyebut, sebanyak 44.322 ekor babi dilaporkan mati karena terserang flu Afrika. Flu Afrika ganas itu setidaknya telah menyerang di 10 kabupaten dan kota di Kalbar dan kini telah masuk gelombang ketiga. “Tindakan yang dilakukan dalam upaya pengendalian adalah menginformasikan edaran gubernur ke bupati dan wali kota tentang kewaspadaan penyakit african swine fever (ASF),” kata Musnif dalam keterangan tertulisnya, Kamis (17/2/2022).

Musnif melanjutkan, daerah yang paling terdampak dengan flu Afrika ini adalah Kabupaten Sanggau, dengan tingkat kematian hewan ternak babi mencapai 24.216 ekor. Kemudian, Kabupaten Sintang 7.030 ekor, Kabupaten Landak 6.3.18 ekor dan Kabupaten Mempawah 3.416 ekor. Musnif menjelaskan, ciri-ciri flu Afrika adanya tanda merah kebiruan pada kulit, muntah, dan terjadi perdarahan pada seluruh organ, yang diawali dengan limpa serta keluar darah dari lubang alami.

“Pada fase awal, hewan ternak tidak mau makan dan lemas,” terang Musnif. Apa itu penyakit ASF? Penyakit demam babi Afrika atau ASF dipicu oleh virus yang menyerang babi hutan atau babi peliharaan di peternakan. Binatang yang terinfeksi mengalami demam tinggi dan pendarahan di organ bagian dalam tubuhnya. Sekitar 90 persen babi hutan yang terinfeksi ASF mati dalam jangka waktu sepekan. Penyakitnya menular lewat kontak dengan cairan tubuh atau darah babi hutan atau babi ternak yang terinfeksi. Virus masih tetap aktif dalam bangkai hewan yang mati akibat penyakitnya, bahkan sampai beberapa bulan atau tahun. Tapi penyakit ini biasanya tidak menular pada manusia.

NTT Usul Bangun Laboratorium

Sementara, Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat mengusulkan kepada Kementerian Pertanian untuk membangun laboratorium kesehatan hewan di NTT guna menangani penyakit flu babi Afrika atau African Swine Fever (ASF) pada ternak babi. Hal itu disampaikan Viktor saat menerima audiensi Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Kupang, Yulius Umbu Hunggar jelang kunjungan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo pekan depan, Rabu (22/9/2021).

“Usulan laboratorium kesehatan hewan ini sebagai upaya penanganan penyakit ASF pada hewan ternak babi di NTT,” ujar Viktor dalam rilis resmi yang diterima Kompas.com, Rabu malam. Viktor menilai, keberadaan laboratorium kesehatan hewan ini penting lantaran ternak babi di wilayah NTT banyak yang mati akibat virus ASF beberapa waktu lalu. Pada 2020 diketahui ribuan babi di NTT mati diserang flu babi Afrika. Kasus kematian babi saat itu menimbulkan keresahan bagi peternak karena membuat mereka kehilangan sumber pendapatan.

“Kita perlu menyiapkan skenario penanganan penyakit ASF yang bagus agar ternak-ternak babi di NTT bisa terlindungi,” katanya. Selain itu, Viktor juga meminta Kepala Dinas Pertanian dan Kepala Dinas Peternakan NTT agar berkolaborasi dengan stakeholder terkait untuk menyiapkan usulan bio security dan bio industri bagi pertanian NTT kepada Kementerian Pertanian, demikian KompasTV.(*)