• Sun. May 29th, 2022

Level Waspada ! Gunung Awu 16 Kali Gempa, Karangetang 22

MANADO, suluthebat.com – Kondisi Gunung Awu di Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara menunjukkan aktivitas yang meningkat. Meski masih pada leven 2 (waspada), namun sejak Senin (28/2/2022) telah terjadi 16 gempa.

Berdasarkan laporan Tommy Luhut Marbun dari Pos Pengamatan Gunung  Awu, Badan Geologi ESDM, secara visual disebutkan Gunung awu tertutup kabut pada skala 0-11, dan secara klimatologi tidak ada asap kawah dengan suhu udara  sekitar 28 -30 derajad celcius dan kelembaban 72 – 76 persen.

Dalam periode pengamatan kegempaan sampai dengan pukul 24.00 Wita Senin (28/2/2022) itu, dilaporkan Gunung Awu mengalami tujuh kali gempa vulkanik dangkal dengan amplitude 5 – 70 mm dan lama gempa 4 – 15 detik. Selain itu, empat kali gempa vulkanik dalam dengan amplitude 3 – 46 mm dan lama gempa 4 – 12.5 detik. Juga lima kali gempa tektonik jauh beramplitudo 4-5 mm dengan durasi 20 -28 detik.

Oleh karena itu, laporan ini meminta masyarakat atau pengunjung / wisatawan tidak mendekati dan beraktivitas di dalam radius 1 kilometer dari kawah puncak Gunung Awu.  Gunung Api Awu terletak di Kabupaten  Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara dengan posisi geografis di Latitude 3.682846°LU,

Gunung Awu adalah gunung dengan jenis stratovolcano. Dri data yang dihimpun, letusan besar gunung ini terjadi pada tahun 1711, 1812, 1856, 1892 and 1966 yang menyebabkan lebih 8000 orang tewas. Ditinjau dari sejarah, Gunung Awu tercatat telah mengalami 18 kali letusan dengan interval antar letusan berkisar 1-101 tahun. Pada umumnya, erupsi Gunung Awu memiliki eksplosivitas relatif tinggi (VEI maksimum: IV dan VEI rata-rata: II).

Karakteristik erupsi Gunung Awu adalah magmatik eksplosif, efusif dan freatik. Selain itu, Gunung Awu juga tercatat sebagai gunung api di busur magmatik Sangihe-Sulawesi Utara yang letusannya paling banyak mengakibatkan korban jiwa yakni 5.301 orang pada tahun 2004. Erupsi pada 2004 tersebut menyisakan Kubah Lava yang tumbuh di dalam kawahnya.

Karangetang               

Di sisi lain, laporan serupa mengenai Gunung Karangetang yang dibuat Aditya Gurasali, A.Md, menyebutkan gunung yang terletak di wilayah Siau, Tagulandang, Biaro (Sitaro) itu, hingga Senin (28/2/2022) kemarin telah tujuh kali gempa hembusan dengan amplitudo 4-15 mm, dan lama gempa 17-22 detik, kemudian dua  kali gempa Hybrid/Fase Banyak dengan amplitudo 10-20 mm, S-P tidak teramati dan lama gempa 7-12 detik, lalu dua kali gempa Vulkanik Dangkal dengan amplitudo 4-8 mm, dan lama gempa 4 detik dan lima kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 8-30 mm, S-P 0.4-1.4 detik dan lama gempa 8-17 detik serta enam kali gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo 6-20 mm, S-P 12 detik dan lama gempa 31-46 detik.

Dari hasil pengamatan itu, Badan Geologi Kementerian ESDM merekomendasikan tiga hal utama yakni, masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 1.5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral ke arah Barat sejauh 2.5 km serta sepanjang kali Malebuhe.

Warga juga diminta mewaspadai guguran lava dan awan panas guguran yang dapat terjadi sewaktu-waktu dari penumpukan material lava sebelumnya karena kondisinya belum stabil dan mudah runtuh, terutama kesektor selatan, tenggara, barat dan barat daya. Yang terakhir, masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak Gunung  Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai.(*)