• Sun. May 29th, 2022

Nasib Petani Cap Tikus Semakin Terancam, Petani Malola Lakukan Diskusi Untuk Mencari Solusi

ByRedaksi Sulut Hebat

Mar 4, 2022

Minsel, suluthebat.com – Sebagian masyarakat Desa Malola dan Malola Satu, Kecamatan Kumelembuai, Kabupaten Minahasa Selatan, yang terdiri dari petani Captikus, penampung Captikus, siswa dan mahasiswa, melakukan diskusi bersama, Kamis (03/02/2022).

Diskusi yang dilaksanakan di Kediaman Keluarga Liow Rompas, Bapak Harto, di Desa Malola Satu, sekira pukul 19.30 Wita tersebut, diikuti hampir 100 masyarakat.

Dalam kesempatan itu, masyarakat melakukan diskusi untuk mencari solusi dari persoalan tindak diskriminasi terhadap petani dan penampung salah satu produk kearifan lokal Minahasa tersebut, serta persoalan inti terkait status produk yang menjadi penghasilan tetap bagi banyak masyarakat di Malola Raya dan desa-desa sekitar yang seakan sudah tidak ada jaminan kebebasan diedarkan untuk menghidupi para petani beserta istri dan anak cucu mereka.

“Mari kita bergandengan tangan, saling dukung dan topang antar sesama petani dan penampung Captikus,” ucap Alfi Liando salah satu penampung Captikus di Desa Malola Satu dengan suara lantang.

Sementara itu dalam kesempatan tersebut, Julian Lendo yang merupakan salah seorang mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sam Ratulangi juga warga Desa Malola menyampaikan bahwa pandangannya terkait Captikus dari sisi hukum.

“Keberadaan salah satu produk kearifan lokal ini perlu kita jaga dan lestarikan. Dari pandangan hukum kita bisa gali dari hukum berdasarkan sumbernya,” ujarnya.

Dikesempatan yang sama, Swingly Liow, S.Pd., mengatakan para petani dan pengusaha Captikus membutuhkan dukungan Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Dimana jika para pelaku Captikus mendapatkan tindakan diskriminasi, kriminalasasi oleh oknum-oknum tertentu, bahkan dari mereka yang mengatasnamakan penegak hukum, para petani dan penampung Captikus bisa mendapatkan pembelaan dan jauh dari tindakan semena-mena.

Lebih lanjut dikatakan Liow, cap tikus hasil olahan para petani dapat dimanfaatkan untuk mendatangkan penghasilan. “Karena para penampung tidak lagi takut untuk membawa cap tikus di perusahaan atau diperjualbelikan di beberapa wilayah untuk kebutuhan sebagai bahan baku hand sanitizer dan kebutuhan lain,” tegasnya, sembari melantangkan suara dengan kalimat hidup petani Captikus.

Sementara itu, Charles Liando, S.Pd., yang juga merupakan anak petani Captikus, memberikan masukkan yang langsung direspon positif seluruh masyarakat yang hadir.

Diungkapkannya, agar masyarakat dapat mengatur waktu melalukan audiensi dengan pihak terkait yaitu DPRD bersama Kapolres Minsel, serta beraudiensi dengan Bupati Minsel Franky Donny Wongkar, SH., dan Wabup Pdt. Petra Yani Rembang. Yang pastinya kita akan bawah kajian terkait peristiwa tersebut serta kajian terkait Captikus.

Hal tersebut senada dikatakan Billy Pinatik, S.Pd yang menegaskan agar sesegera mungkin kita akan selesaikan kajian captikus tersebut untuk dibawa ke Pemerintah Kabupaten dan DPRD.

“Agar secepat mungkin direspon oleh Pemerintah Kabupaten Minsel dan DPRD. Beberapa poin yang kita harapkan diantaranya perlindungan terhadap petani dan penampung Captikus serta legalitas produk kearifan lokal tersebut,” Jelas Pinatik.

Ia juga mendorong agar supaya solid dan bersatu untuk dalam memperjuangkan nasib petani Cap Tikus,

“Yang tak kalah penting adalah persatuan dari seluruh rakyat Malola Raya baik dari pemerintah desa, unsur pendeta, gembala, tokoh pendidikan, kelompok milenial dan seluruh kelompok dan komunitas yang ada di Malola Raya, karena jika kita bersatu padu maka perjuangan kita akan berhasil. tandasnya.

Redaksi Sulut Hebat

Media informasi dan inspirasi pembangunan Sulawesi Utara yang semakin hebat...