• Sun. May 29th, 2022

Sekilas Misteri “SUPER SEMAR” Yang Kontroversi dan Inkonstitusional. (Elias Daud Pangkey, M.Pd)

ByRedaksi Sulut Hebat

Mar 11, 2022

Manado, suluthebat.com – SEKILAS MISTERI “SUPER SEMAR YANG KONTROVERSI DAN INKONSTITUSIONAL
(Asas Legalitas Sejarah Kepemimpinan Rejim Orde Baru/ Soeharto)
SEBUAH KONTEMPLASI-KAJIAN ANALITIS KRITIS Elias Daud Pangkey (Pengamat-Peneliti Sosial Budaya dan Kebangsaan).

 

KATA PENGANTAR Indonesia dimata dunia bagai sebuah tanah surga paripurna anugerah Tuhan terindah melegenda sesuai ungkapan “gemaripah loh jinawi, tata tentram kertaraharja”, sehingga menjadi magnet, dijelajahi bahkan dinikmati secara fisik maupun spiritualnya. Sebuah negeri mempesona – unik, ditengah keragaman (suku – agama – ras, bahasa – adat istiadat/ budaya) yang secara alami tercipta akibat faktor demografi dan kondisi geografis nusantara, namun terbangun cita rasa dan karsa kebersamaan yang kokoh dan harmoni. Fenomena “pesona harmoni ditengah keragaman” ini secara historis tertuang bijak dalam seloka sarat makna “ Bhineka
Tunggal Ika” lengkapnya “Bhineka Tunggal Ika – Tan Hanna Dharma Mangra” walau berbeda – beda namun satu jua adanya – sebab tidak ada agama yang Tuhannya berbeda, (dalam buku Sutasona karya Empuh Tantular). Proposisi luhur/ bijak ini selaras dengan semangat budaya “Gotong Royong”, satu dan lainnya melandasi konvensi nasional Agustus 1945 yaitu : Pancasila (dasar – falsafah/ideologi pemersatu, pandangan hidup bangsa), NKRI, UUD 1945 (landasan konstitusi nasional), Bhineka Tunggal Ika (semboyan nasionalis), merah – putih (bendera nasional), sebagai penanda identitas kepribadian/ jati diri bangsa Indonesia.
Kisah heroik patriotik humanis yang fenomenal pasca perjuangan panjang penuh pengorbanan jiwa – raga para pahlawan pendahulu ± 350 tahun melawan kekejaman kolonialis (Belanda – Jepang), atas Berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, para pejuang Fondin Father berhasil memproklamiskan Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Sebuah gerakan revolusi mental sangat fundamental dan strategi di bawah kendali Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno dan Mohamad Hatta sebagai Bapak Proklamator Kemerdekaan bangsa, tanpa pertumpahan darah, (Kontradiksi dengan kebejatan pengkhianatan anak bangsa mengkudeta merebut kekuasaan dari Presiden Sukarno ke tangan Soeharto).
Sejarah zaman Sriwijaya – Madjapahit ± abad VI s/d XVI, cerminan bumi nusantara yang “Gema ripah logdjinawi – tata tenteram kerta raharja”, menjadikan negeri khatulistiwa nusantara disegan sekaligus diincar mancanegara (Negara – Negara imperialis kapitalis) yang berkolaborasi dengan komprador kaum borjuis feodal dalam negeri.
Sebuah negeri bertabur “Bintang Maha Putra Kepahlawanan Bangsa”, kesatria luhur yang rela bertarung nyawa tanpa pamri, dalam semangat “ambeg para maarta” mengemban AMPERA, mengangkat harkat – martabat jati – diri bangsa. Mewujudkan cita – cita luhur proklamasi kemerdekaan dan masyarakat adil sejahtera/ makmur tentram – damai. Sejalan degan Tri Sakti Bung Karno. Berdaulat dalam Politik, BERDIKARI dalam ekonomi, Berkepribadian dalam Kebudayaan.
Sayang kisah indah dan nan luhur kedigyaan Ibu Pertiwi yang terangkai apik, penuh pesona kebanggaan per episode, dicederai rangkaian adegan berdarah dengan pembunuhan 7 perwira TNI AD yang dilancarkan oknum – oknum TNI AD bersama mitranya yang tidak bertanggung jawab/ biadab. Sebuah gerakan pengkhianatan pada pemerintah yang sah (Presiden Sukarno) lewat G30S-GESTAPU/GESTOK 1965, oleh sang dalang/ sutradara sekaligus aktor haus kekuasaan (tahta – harta).
Dr. Subanrio (waperdam I) mengatakan sebuah kudeta dari G 30 S/ GESTOK 1965, SUPERSEMAR 1966 yang mengobrak-abrik, dan TAP – TAP MPRS yang memperbesar peran Jendral Soeharto , sampai terbitnya TAP MPRS No XXXIII yang menentukan kekuasaan dari tangan Presiden Sukarno dengan segala predikat kebesaran yang disandangnya, merekayasa kejahatan kejahatan secara massal, lempar batu sembunyi tangan, layaknya Kaisar Nero dan pahlawan kesiangan. Dan lebih keji lagi ketika sang dalang berdiri dibalik stigma sejarah bahaya laten PKI sebagai kambing hitam dibalik rekayasa/skenario pembunuhan 7 perwira tingg TNI AD yang setia pada Presiden Sukarno dan Pancasila/ UUD 1945.
Suatu prahara pengkhianatan berdarah terhadap pemerintah yang sah menurut UU, dengan strategi menghalalkan segala cara mencapai tujuan, sungguh tak berkeprimanusiaan dan tak berkepribadian bangsa pula, berkolaborasi dengan pihak berkepentigan asing imprealis, menggadaikan harga diri bangsa dan segala kedigdayaannya untuk merebut kekuasaan secara inkonstitusional dari sang patriotis – nasionalis Presiden Sukarno (Bapak Pemersatu Bangsa, Penggali Pancasila, Proklamator Kemerdekaan RI, Pemimpin Besar Revolusi Indonesia, Penyambung Lidah Rakyat Sejati).
Tulisan analisis kritis berjudul “Misteri dan Kontrovrsi SUPERSEMAR” ini tidak semata-mata mengungkap tabir “kotak Pandora” G 30 S/ GESTOK 1965, SUPERSEMAR 1966 dengan Rezim Orde – Baru Soeharto yang represif. HAM serta KKN), sekaligus sebuah kontemplasi dalam mengedukasi generasi zaman sekarang/milenial, serta pencerahan dalam upaya pelurusan sejarah yang hakiki dan penegakan hukum. Di pihak tertentu membangkitkan masa kini umumnya, para aparatur penyelenggara negara ( eksekutif, yudikatif, legislatif), agar lebih berintegritas berjiwa patriotis – nasionalis, berahlak moral Pancasilais, mampu mengendalikan nafsu berkuasa secara inkonstitusional dengan segala dampak negatifnya serta rela memaafkan – memaafkan dan JASMERA . MERDEKA. Manado, 22 Oktober 2018.

(Daud Elias Pangkey)

Redaksi Sulut Hebat

Media informasi dan inspirasi pembangunan Sulawesi Utara yang semakin hebat...