Juni 1, 2023

Blokir Aktivitas di Lokasi Tambang Rakyat Tatelu, Warga Tuntut Janji ke PT MSM/TTN

Minut, Suluthebat.com- Situasi konflik antara masyarakat penambang di tambang rakyat Desa Tatelu, kecamatan Dimembe, kabupaten Minahasa Utara dengan PT MSM/PT TTN sebagai perusahaan yang bergerak dibidang pertambangan, makin memanas.

Pasalnya, aktivitas pertambangan yang dikelola masyarakat sejak puluhan tahun lalu, yang dijadikan sumber mata pencaharian mereka, telah diblokir oleh PT MSM/TTN.

Tak hanya itu, PT MSM/TTN dinilai tidak lagi melakukan komitmen yang sudah disepakati.

Terpantau media, selain menutup beberapa lokasi milik penambang, pihak PT MSM/TTN juga memasang baliho Objek Vital Nasional (Obvitnas). Sehingga terjadi argumentasi antara pihak penambang dan pihak keamanan Ditpamobvit di lokasi tambang rakyat. Selasa (23/5/2023).

Salah satu pemilik lubang tambang, Glen Wuisan mengatakan, seharusnya pihak perusahaan tidak semena-mena melakukan langkah-langkah seperti itu.

Dijelaskannya, beberapa waktu lalu tepatnya bulan Maret 2023, telah disepakati bersama dengan pihak perusahaan, untuk sementara akan dilakukan penutupan lubang, dengan waktu 1 sampai 25 April.

Namun sampai 25 April, pihak perusahaan belum juga membuka lubang tersebut. Herannya, perusahaan juga meminta waktu sampai pada tanggal 4 mei 2023.

Kebijakan Perusahaan, tetap saja diiyakan oleh pemilik lubang dan penambang. Dengan iming-iming, nantinya perusahaan akan menerapkan suatu sistem kemitraan dengan pemilik lubang.

Meski sudah dirugikan waktu dan materi, keempat pemilik lubang tetap mengikuti semua kebijakan perusahaan. Dikatakan Glen, dalam kurun waktu itu penambang tidak bekerja. Tetapi semua kebutuhan mereka tetapi dipenuhi.

Tak berjalan sesuai harapan, perlakuan perusahaan yang mengklaim kepemilikan atas area tambang itu, saat ini disikapi serius oleh Glen dan ketiga pemilik lubang lainnya.

”Apa yang perusahaan lakukan, sudah tidak sesuai komitmen. Tarik ulur waktu selama ini ternyata hanya untuk keuntungan mereka. Saya katakan itu karena perusahaan tidak memperhitungkan segala kerugian kami. Seharusnya perusahaan melakukan komunikasi lagi dengan kami, sebagai tindak lanjut dari kesepakatan lalu. Kami sangat kecewa dan dirugikan. Apalagi tambang yang sudah puluhan tahun menjadi lahan pencaharian kami, saat ini diklaim menjadi objek vital nasional,” ungkap Glen.

Mengalami hal demikian, tak segan Glen meminta supaya pihak perusahaan harus terbuka. Keabsahan kepemilikan lahan tambang harus jelas.

”Kami butuh kejelasan dari perusahaan. Kapan area ini menjadi milik mereka. Puluhan tahun tempat ini menjadi sumber pencaharian kami. Banyak masyarakat yang sumber ekonominya berasal dari situ. Kami minta seadil-adilnya perusahaan juga pemerintah menyikapi ini,” tegasnya.

Terpisah, salah satu tokoh masyarakat yang juga pengusaha tambang emas, Izak Tambani, meminta pihak Pemerintah  segera mengambil sikap untuk menjaga jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Karena para pekerja di tempat tersebut adalah kalangan masyarakat menengah ke bawah.

“Kepada pihak Pemerintah daerah, provinsi bahkan pemerintah pusat, tolong segera mengambil sikap. Demi menjaga hal hal yang tidak diinginkan terjadi,” pinta Izhak Tambani, saat ditemui wartawan di rumahnya.  (Vivi)