January 28, 2023

Komisi I DPR Uji Kelayakan dan Kepatutan Calon Panglima TNI Laksamana TNI Yudo Margono

Jakarta, suluthebat.com- Komisi I DPR RI melakukan uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test terhadap calon Panglima TNI Laksamana Yudo Margono Jumat (2/12/2022) siang ini.

Anggota Komisi I DPR dari Fraksi Gerindra, Sugiono, mengatakan tidak ada hal khusus yang akan didalami kepada LaksamanaYudo Margono.

Komisi I, lanjutnya, hanya  akan menanyakan tentang program ke depan Kepala Staf Angkatan Laut itu bila diangkat menjadi Panglima TNI.

“Tidak ada isu khusus yang didalami. Lihat saja rencana dan program beliau pada saat nanti sudah dilaksanakan fit and proper test,” kata Sugiono.

Sementara itu, terkait sosok Yudo yang merupakam satu-satunya calon yang ditunjuk Presiden Jokowi, Sugiono menilai hal itu sudah menjadi pilihan yang tepat. Ia melihat Yudo merupakan sosok yang profesional sehingga dirasa mampu mengemban tugas sebagai Panglima TNI.

“Saya kira beliau adalah sosok prajurit yang profesional. Saya yakin Pak Presiden juga pada saat mengirimkan surpres ke DPR sudah mempertimbangkan prajurit dengan prestasi yang terbaik di jajarannya,” kata Sugiono.

Sebelumnya, Anggota Komisi I DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, TB Hasanuddin, berujar beberapa hal substansial akan ditanyakan atau dipertegas kepada Yudo.

Hasanudin akan meminta calon Panglima TNI agar para prajurit tetap dalam posisi netral dalam Pemilu 2024.

Sebelum menjalani fit and proper test, Jumat tadi pagi Laksamana TNI Yudo Margono meresmikan Mega Diorama Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT), Taman Dewaruci, dan Galeri Jalesveva Jayamahe.

Ia juga meresmikan Gedung Neptunus yang baru direnovasi, monumen Penganugerahan Panji Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI), serta peluncuran buku Jalasena di Markas Besar TNI AL, Cilangkap Jakarta Timur.

“Taman SSAT merupakan Mega Diorama berupa kemampuan TNI Angkatan Laut dalam suatu Sistem Senjata Armada Terpadu yang terdiri dari kapal perang, pesawat udara, marinir, dan pangkalan,” kata Yudo.

Mega Diorama SSAT yang menempati area seluas 3.850 meter itu memvisualisasikan pelaksanaan operasi pendaratan amfibi untuk merebut tumpuan pantai di suatu wilayah NKRI yang telah dikuasai oleh musuh.

Adapun alutsista yang ditampilkan antara lain miniatur KRI Teluk Banten-516, KRI Teluk Ende-517 beserta LCVT, Kemudian, KRI Bung Tomo-357, KRI Hasanudin-366, KRI Ardedali-404, KRI Alugoro-405, Tank AMX 10 P&, AMX 10 P Marine, Panser BDRM-1, M-30 Howitzer 122 mm, B,M-14/17, Tank BTR 50 PK, Helikopter Bolkow BO-105a, Pesawat Udara Nomad N22/N24, dan prajurit-prajurit Marinir serta Pangkalan TNI Angkatan Laut yang digambarkan dengan mercusuar.

Lalu, Taman KRI Dewaruci merupakan bangunan kapal dengan ukuran yang lebih kecil merepresentasikan KRI Dewaruci yang legendaris.

KRI Dewaruci yang telah dua kali berlayar mengelilingi dunia menjadi simbol ketangguhan serta kebangkitan kejayaan maritim bangsa Indonesia.

Masih dalam satu area dengan Mega Diorama dibangun juga Monumen Penganugerahan Panji ALRI ‘Jalesveva Jayamahe’ dari Presiden Pertama Republik Indonesia Soekarno kepada Kepala Staf Angkatan Laut ketiga Kolonel R. Subijakto pada 5 Oktober 1952.

Peristiwa ini menjadi momentum bersejarah bagi seluru prajurit ALRI menyatukan kebulatan tekad sebagai garda terdepan dalam mempertahankan kedaulatan wilayah laut demi mewujudkan semboyan Jalesveva Jayamahe (Justru di Laut Kita Jaya).

Selanjutnya, Galeri Jalesveva Jayamahe yang berlokasi di Kantor Dinas Sejarah Angkatan Laut, Jalan Cikini Raya Nomor 11 Jakarta Pusat akan menampilkan berbagai koleksi keangkatan lautan dari masa kejayaan maritim, masa kolonialisme, masa perang kemerdekaan, masa mempertahankan integrasi bangsa, masa orde baru hingga saat ini.

Yudo juga meresmikan Gedung Neptunus yang telah selesai direnovasi dan berdekatan dengan mega diorama SSAT.

Gedung yang dibangun menyerupai kapal ini juga merupakan representasi dari pangkalan melengkapi komponen SAT dan merupakan gedung pimpinan tempat dilakukannya berbagai kegiatan pertemuan dan acara lainnya.

Pada kesempatan yang sama, Yudo Margono juga meluncurkan buku karyanya yang berjudul ‘Jalasena Transformasi Komponen Utama Pertahanan Matra Laut’.

Secara garis besar, Yudo menulis tentang dinamika perubahan ancaman yang dibentuk dari perkembangan lingkungan strategis telah menuntut kemampuan para prajurit TNI AL ke mana dan bagaimana harus berubah.

Proklamasi kemerdekaan menjadi titik awal dan 2045 bukan menjadi titik akhir, tetapi menjadi proyeksi dan refleksi bersama bagaimana perjalanan perubahan dan ke arah mana kita harus berubah.

Beberapa wahana kesejarahan ini, kata Yudo, merupakan refleksi dari perjalanan sejarah TNI Angkatan Laut yang harus diketahui oleh generasi penerus untuk dapat diproyeksikan membangun kekuatan matra laut pada masa kini dan mendatang. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *